Cincin Biji Sawit Simbol Kreativitas di Tengah Kepungan Kebun Sawit

 


Jambinews.id - Jambi - Di tengah kepungan perkebunan kelapa sawit yang kini mendominasi bentang alam hutan Sumatra, dua pemuda Suku Anak Dalam (SAD), Jaini dan Cedas memiliki ide kreatif. 

Alih-alih meratapi hilangnya ruang hutan, dua pemuda dari Rombong Jurai ini memilih jalan unik untuk bertahan: "memanen" limbah dari tanaman yang mengepung permukiman mereka. Biji-biji sawit yang jatuh dan terlupakan itu mereka pungut dan olah menjadi cincin artistik. 


Bagi mereka, biji sawit yang berserakan di sekitar pemukiman adalah bahan baku yang menunggu untuk “dihidupkan” kembali. 

Inisiatif yang dimotori oleh Gerakan Pemuda Anak Dalam (GPAD) ini menjadi bukti bahwa keterbatasan ruang tidak menyurutkan kreativitas, apalagi bagi Cedas, pemuda penyandang disabilitas fisik. 

Kegiatan mengolah biji sawit ini menjadi ruang ekspresi yang ia lakukan di sela-sela waktunya saat tidak memungut brondolan sawit di perkebunan milik warga.

Dalam keterbatasannya itu, bapak dari satu orang anak ini mampu menghasilkan produk kerajinan dari sisa-sisa hasil bumi yang mengepung tempat tinggalnya. 

Berdasarkan penuturan Cedas, mengolah biji sawit yang keras secara manual adalah pekerjaan yang menguras waktu dan tenaga. Namun melalui pendampingan Pundi Sumatra, Jaini dan Cedas telah mengadopsi bantuan alat-alat modern. Dengan mesin gerinda kecil dan mesin amplas mereka mampu mengubah tekstur kasar biji sawit menjadi lebih halus mengkilap. 

Cincin biji sawit karya GPAD Pematang Kejumat ini ditawarkan dengan harga yang sangat terjangkau, yakni Rp15.000 per buah. Harga yang dipatok ini merupakan undangan bagi publik untuk ikut mengapresiasi jerih payah Cedas. 

Bagi pembeli, nominal tersebut mungkin sekadar harga sebuah aksesoris, namun bagi komunitas di Pematang Kejumat, setiap rupiahnya adalah dukungan nyata bagi proses adaptasi mereka terhadap pola ekonomi baru. 

Uang yang terkumpul menjadi tambahan pendapatan bagi rumah tangga sekaligus modal untuk merawat peralatan kerja kelompok agar terus berkelanjutan.

CEO Pundi Sumatra Sutono menegaskan bahwa apa yang dilakukan Jaini dan Cedas adalah bagian dari upaya besar komunitas SAD untuk berdaulat di atas kaki sendiri.

"Mereka tidak lagi meratapi hilangnya hutan, tapi mulai mengisi celah ekonomi melalui pengolahan bahan baku yang ada di sekitar mereka. Ini adalah langkah kecil yang sangat bermakna bagi kedaulatan ekonomi mereka ke depan,"katanya, pada Selasa (27/01/2026).

Keberlanjutan usaha cincin biji sawit ini kini bergantung pada penerimaan pasar. Langkah kecil dari pengrajin SAD ini diharapkan menjadi contoh bagi rombong SAD lainnya, bahwa potensi ekonomi bisa digali dari apa yang ada di sekitar mereka, asalkan dikelola dengan keterampilan dan manajemen yang tepat,