Jambinews.id – Bupati Merangin, M. Syukur, menghadiri acara perpisahan santri kelas VI Pondok Pesantren / XII Madrasah Aliyah (MA) Pondok Pesantren Madinatul Ulum, Kecamatan Pamenang, pada Rabu (13/05).
Acara yang digelar di halaman masjid ponpes tersebut berlangsung khidmat dan diwarnai suasana haru.
Dalam sambutannya, Bupati M. Syukur memberikan apresiasi tinggi kepada Pimpinan Ponpes Madinatul Ulum, Kiai Kholiq, beserta jajaran pengajar yang terus istiqomah membina generasi muda di tengah arus globalisasi.
Bupati mengingatkan betapa pentingnya meluruskan paradigma masyarakat yang menganggap pesantren sebagai tempat "pelarian" bagi anak-anak nakal. Menurutnya, tidak ada anak yang nakal, yang ada adalah komunikasi yang terputus antara orang tua dan anak.
"Pesantren bukan tempat menampung anak nakal. Kita harus introspeksi diri, di mana komunikasi kita sebagai orang tua terputus. Pendidikan tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada guru, orang tua tetap memiliki peran krusial," ujar Bupati.
Ia juga menambahkan bahwa di era dunia maya saat ini, agama menjadi benteng utama bagi generasi muda.
"Kita harus masuk ke dunia globalisasi, tapi bentengnya adalah agama. Dan ilmu agama itu paling banyak dipelajari di pesantren," imbuhnya.
Selain menyapa wali santri, Bupati M. Syukur juga menanggapi keluhan masyarakat Pamenang terkait kondisi infrastruktur, khususnya jalan di area pasar. Ia menjelaskan bahwa saat ia dilantik pada Februari tahun lalu, kondisi jalan mantap di Merangin hanya berkisar 21 persen.
"Saya ingin sampaikan kepada masyarakat Pamenang, insyaallah di anggaran perubahan nanti kita akan selesaikan perbaikan jalan Pasar Pamenang. Kami mohon bersabar karena harus melalui mekanisme anggaran perubahan," jelas M. Syukur.
Bupati menegaskan komitmennya untuk membenahi Merangin meskipun harus menghadapi berbagai tantangan anggaran dan birokrasi. Ia bahkan menyinggung keputusannya meninggalkan jabatan di pusat demi mengabdi di tanah kelahiran.
Kepada para santri, Bupati berpesan agar mereka tidak hanya mengejar ilmu, tetapi tetap mengedepankan adab di atas segalanya. Ia juga mengingatkan agar para alumni tetap mengingat jasa para guru dan membantu perkembangan pesantren di masa depan.
"Masuk pesantren tidak harus jadi kiai. Silakan mau jadi dokter, pengusaha, atau pejabat, asalkan tetap memegang teguh nilai-nilai Al-Qur'an. Jadilah duta dakwah di mana pun kalian berada nanti," pungkasnya. (Mansurdin)
