Oleh : Muhammad Al Hafizh, S.I.Kom., M.I.Kom (Dosen UIN Sulthan Thaha Saifuddin)
Jambinews.id - Opini - Belakangan ini saya mulai tertarik melihat fenomena Homeless Media. Dalam ilmu komunikasi, media baru (new mediaatau media generasi kedua) sering dianggap lebih demokratis dibanding media lama. David Holmes dalam Littlejohn menjelaskan bahwa media generasi kedua lebih cair, komunikasinya dua arah, dan semua orang bisa menjadi produsen informasi. Karena itu, media sosial dianggap sebagai ruang yang lebih bebas dibanding televisi atau koran.
Awalnya saya juga berpikir seperti itu. Akun media di Instagram atau TikTok terlihat lebih independen, dekat dengan anak muda, dan tidak terikat institusi besar. Dari situlah muncul istilah Homeless Media, media yang seolah tidak punya rumah.
Namun belakangan saya mulai melihat fenomena ini dengan cara berbeda. Saya merasa sebenarnya tidak ada media yang benar-benar “homeless”. Semua tetap punya rumah, hanya saja bentuknya tidak lagi seperti gedung televisi atau kantor redaksi.
Hari ini, pemilik modal seperti memukul rata semua penggiat media sosial. Mau itu Homeless Media, influencer, sampai akun clippers yang kerjanya memotong podcast lalu mengunggah ulang ke TikTok, tujuan akhirnya tetap sama: membangun opini publik dan menguasai perhatian masyarakat.
Semakin saya amati, memang arahnya bergerak ke sana. Yang paling mahal hari ini bukan lagi informasi, melainkan perhatian publik. Semua orang berlomba masuk FYP, viral, dan terus muncul di timeline. Dalam situasi seperti itu, saya mulai sadar bahwa media sosial bukan cuma ruang ekspresi, tetapi sudah menjadi industri perhatian. Dan dalam industri sebesar itu, rasanya sulit percaya bahwa semuanya bergerak sepenuhnya organik.
Saya lalu melihat salah satu contoh yang menurut saya menarik, yaitu Taulany TV. Kalau kita mencari di Google dengan kata kunci “siapa pemilik Taulany TV”, nama yang muncul pasti Andre Taulany karena publik melihat Andre sebagai wajah utama media tersebut.
Namun saya mulai berpikir: apakah figur yang tampil di depan selalu menjadi pemilik sebenarnya?
Belakangan saya menemukan nama Ranggaz Ananta Laksmana yang disebut berada di balik pengelolaan media tersebut. Ranggaz diketahui merupakan anak dari Rudy Setia Laksmana, Komisaris Utama PT Mahaka Digital Inovasi.
Yang membuat saya semakin tertarik, ketika melihat akun Instagram Ranggaz, ternyata ia juga mencantumkan Taulany TV di bio Instagram miliknya. Di situ saya merasa publik memang lebih mengenal figur yang tampil di depan kamera dibanding jaringan bisnis dan modal di belakangnya.
Dari situ saya mulai berpikir bahwa ini merupakan salah satu contoh kecil bagaimana oligarki media ternyata tidak hilang. Mereka hanya berubah bentuk mengikuti perkembangan zaman. Kalau dulu oligarki bermain lewat televisi, koran, dan radio, sekarang mereka masuk ke media sosial, influencer, podcast, akun viral, sampai clippers. Yang berubah bukan cara menguasai opini publiknya, melainkan mediumnya.
Dan menurut saya, justru di situlah letak bahayanya. Dulu keberpihakan media lebih mudah dikenali. Sekarang propaganda masuk lewat meme, video lucu, potongan podcast, dan konten hiburan. Orang merasa sedang menikmati hiburan, padahal pelan-pelan opini mereka sedang dibentuk.
Media sosial membuat semuanya terlihat alami. Padahal algoritma bisa dimainkan, distribusi bisa dibeli, dan engagement bisa didorong dengan modal besar. Karena itu saya mulai merasa istilah Homeless Media hanyalah ilusi. Mereka terlihat tidak punya rumah karena tidak memiliki newsroom seperti media lama. Padahal rumah mereka hanya berubah bentuk: bernama modal, algoritma, jaringan distribusi, dan oligarki digital.
