Jambinews.id - Jambi, 7 Maret 2026 - Tradisi mandi air masin yang dahulu dikenal luas di tengah masyarakat Melayu Jambi kini perlahan menghilang ditelan perubahan zaman. Meski praktiknya nyaris tidak lagi ditemukan, ingatan tentang tradisi penyembuhan tradisional tersebut masih tersimpan dalam cerita para tokoh budaya dan maestro Melayu Timur Jambi.

Bagi generasi lama, mandi air masin bukan sekadar ritual biasa. Tradisi itu pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Desa Teluk Majelis, Kecamatan Kuala Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Seorang maestro tradisi tersebut menceritakan bahwa pada masa lalu masyarakat sangat percaya terhadap kekuatan simbolik laut dalam proses penyembuhan penyakit nonmedis.

“Dulu tradisi ini cukup sering dilakukan. Biasanya tokoh-tokoh atau orang tertentu yang memimpin karena mereka dianggap mampu melakukannya,” ujarnya saat mengenang praktik budaya yang kini telah punah tersebut.

Menurutnya, mandi air masin bukan hanya bertujuan memulihkan kondisi tubuh, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi batin dengan leluhur. Dalam budaya Melayu Timur Jambi, leluhur dipercaya hadir di tengah laut dalam prosesi pelaksanaan mandi air masin.

Namun seiring perkembangan zaman, tradisi mandi air masin perlahan ditinggalkan masyarakat. Modernisasi, perkembangan layanan kesehatan medis, perubahan pemahaman keagamaan, serta minimnya pewarisan budaya kepada generasi muda membuat tradisi itu semakin jarang dikenal.

“Sekarang anak muda banyak yang tidak tahu lagi. Mereka hanya mendengar cerita dari orang tua atau kakek-neneknya,” kata Datuk Saed.

Hilangnya tradisi mandi air masin menjadi bagian dari tantangan besar dalam menjaga warisan budaya lokal. Tradisi tersebut dinilai memiliki nilai historis dan filosofis yang mencerminkan cara masyarakat Melayu Timur Jambi dahulu memahami kesehatan, hubungan manusia dengan alam, serta keseimbangan hidup.

Meski telah menjadi kenangan, tradisi mandi air masin tetap hidup dalam ingatan para maestro. Cerita tentang ritual itu menjadi bagian dari warisan lisan yang terus dikenang sebagai jejak kearifan lokal masyarakat Melayu Timur Jambi.