Jambinews.id - Tebo Jambi -Upaya memulihkan bentang alam sekaligus mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar terus dilakukan di kawasan Landscape Bukit Tiga Puluh, Kabupaten Tebo, Jambi. Melalui Program Restorasi Berbasis Masyarakat (RBM) yang diinisiasi WWF Indonesia, sebanyak 30 ribu bibit pohon dan tanaman produktif ditanam bersama masyarakat sebagai langkah nyata mengembalikan fungsi ekosistem yang terdegradasi akibat deforestasi dan alih fungsi lahan.
Program tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat Dusun Benteng Makmur, Desa Muara Kilis. Salah satu peserta program, Apri, Sekretaris Kelompok Sepenat Alam Lestari, mengaku masyarakat kini mulai memahami pentingnya hidup berdampingan dengan satwa liar, khususnya gajah Sumatera yang oleh warga setempat dikenal dengan sebutan “Datuk Gedang”. Menurutnya, hubungan masyarakat dengan gajah tidak selalu harmonis. Selama bertahun-tahun, petani kerap mengalami kerugian akibat tanaman mereka dirusak kawanan gajah yang keluar dari habitatnya untuk mencari pakan.
“Dulu tanaman kami habis dirusak gajah. Namun dari pengalaman itu kami mulai mencari alternatif tanaman yang tidak disukai gajah seperti kopi, durian, kemiri, dan kelengkeng. Alhamdulillah, tanaman tersebut aman dan tidak dirusak,” ujar Apri.
Ia menjelaskan, mayoritas warga di wilayah tersebut sebelumnya mengandalkan karet dan sawit sebagai sumber penghidupan. Namun kedua komoditas itu justru menjadi tanaman favorit gajah ketika sumber pakan di dalam hutan semakin terbatas. Berbekal pengalaman tersebut, masyarakat mulai menerapkan pola agroforestri dengan mengombinasikan tanaman kayu-kayuan, tanaman buah, serta kopi dalam satu hamparan lahan. Selain memberikan manfaat ekonomi, pola ini dinilai efektif mengurangi intensitas gangguan gajah ke kebun warga.
Kelompok Sepenat Alam Lestari sendiri mengelola kawasan perhutanan sosial seluas sekitar 3.101 hektare. Dalam program restorasi yang dijalankan, setiap anggota kelompok diwajibkan menanam sedikitnya 25 pohon kayu dan 25 pohon buah. Berbagai jenis tanaman seperti meranti, gaharu, bayur, durian, alpukat, kopi, kakao, petai hingga jengkol menjadi bagian dari upaya penghijauan yang dilakukan masyarakat secara swadaya dan berkelanjutan.
Sementara itu, Community Development Officer WWF Indonesia, Rara Yulia Putri, mengatakan Program Restorasi Berbasis Masyarakat di Landscape Bukit Tiga Puluh saat ini melibatkan tujuh kelompok tani dengan total 110 anggota yang tersebar di dua desa. Penanaman dilakukan pada lahan-lahan petani dengan pendekatan agroforestri, lahan kritis, hingga kawasan sempadan sungai. Hingga saat ini, luas area restorasi yang telah terekam melalui sistem pemantauan mencapai 163,6 hektare.
Menurut Rara, WWF Indonesia menargetkan distribusi dan penanaman sebanyak 30.000 bibit yang terdiri dari berbagai jenis pohon buah dan tanaman kayu. Seluruh proses penanaman dipantau menggunakan teknologi berbasis geolokasi bernama Reconnect Plus. Teknologi ini memungkinkan setiap pohon yang ditanam tercatat secara digital sehingga perkembangan dan tingkat keberhasilan restorasi dapat dipantau secara berkala oleh petani maupun publik.
“Reconnect Plus menjadi alat untuk memastikan keberhasilan restorasi. Semua pohon yang ditanam akan terekam secara digital sehingga proses pemantauan menjadi lebih mudah dan transparan,” jelas Rara.
Lebih dari sekadar penghijauan, program ini juga menjadi strategi jangka panjang dalam memulihkan habitat satwa liar yang terus mengalami penyusutan akibat kerusakan hutan. Dengan menghadirkan tanaman yang tidak disukai gajah di area perkebunan masyarakat, WWF Indonesia berharap interaksi negatif antara manusia dan satwa dapat ditekan secara signifikan.
“Kami berharap restorasi ini mampu mengembalikan kualitas ekosistem yang menurun sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dari hasil panen tanaman produktif di masa depan. Yang tidak kalah penting, upaya ini juga menjadi bagian dari mitigasi konflik manusia dan gajah melalui pemulihan habitat yang lebih baik,” tutup Rara.
