Jambinews.id | Jakarta - 22 Agustus 2026, Wakil Dekan III Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Prof. Dr. H. Lukman Hakim, S.Ag., M.Pd.I., bersiap melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Banjarmasin untuk menghadiri Kegiatan Nasional Fordetak FTK Indonesia Tahun 2026.

Prof. Dr. H. Lukman Hakim berada di ruang tunggu keberangkatan Terminal 2E Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, menunggu penerbangan Jakarta–Banjarmasin yang dijadwalkan berangkat pukul 12.00 WIB.

Kegiatan Nasional Fordetak FTK Indonesia Tahun 2026 mengusung tema “Strengthening Collaboration and Innovation in Islamic Teacher Education Toward World-Class PTKIN.” Tema tersebut menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama dan inovasi pendidikan guru Islam dalam menghadapi tuntutan global serta perkembangan teknologi.

Menurut Prof. Dr. H. Lukman Hakim, terdapat sejumlah komponen penting yang perlu diperkuat untuk mendorong pendidikan guru Islam menuju PTKIN berkelas dunia. Komponen tersebut antara lain integrasi keilmuan Islam dan sains, penguatan jejaring riset global, digitalisasi pembelajaran, tata kelola perguruan tinggi yang baik, serta kemitraan strategis lintas sektor.

Integrasi Keilmuan dan Kurikulum

Prof. Lukman menekankan pentingnya epistemologi integratif yang menyatukan nilai-nilai Islam dengan pedagogi modern dan perkembangan sains. Dengan pendekatan tersebut, calon guru tidak hanya memiliki kompetensi akademik dan profesional, tetapi juga memiliki landasan moral dan nilai keislaman yang kuat untuk menghadapi tantangan pendidikan global.

Selain itu, kurikulum harus terus adaptif terhadap perubahan zaman. Perguruan tinggi perlu mengadopsi standar internasional sekaligus mengembangkan metode pembelajaran kreatif yang responsif terhadap perkembangan teknologi dan berbagai bentuk disrupsi pendidikan.

Penguatan Riset dan Publikasi Global

Menurutnya, kolaborasi riset internasional juga menjadi salah satu kunci menuju PTKIN kelas dunia. Fakultas dan program studi di bidang tarbiyah dan keguruan perlu memperluas kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri melalui joint researchjoint publication, serta penelitian multidisipliner.

FTK juga didorong untuk membangun pusat-pusat unggulan studi yang mampu menjadi center of excellence dalam inovasi pendidikan Islam. Pusat unggulan tersebut diharapkan tidak hanya berorientasi pada kebutuhan nasional, tetapi juga mampu memberikan kontribusi terhadap perkembangan pendidikan Islam di tingkat dunia.

Ekosistem Digital dan Teknologi

Transformasi digital menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan pendidikan guru Islam. Prof. Lukman melihat pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), perpustakaan digital, serta berbagai platform pembelajaran pintar sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas proses pendidikan dan praktik mengajar.

Di sisi lain, diperlukan integrasi data dan sistem informasi akademik yang mampu mendukung transparansi, efisiensi, serta kemudahan akses bagi sivitas akademika. Sinkronisasi sistem akademik nasional dengan jejaring global menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun ekosistem perguruan tinggi yang modern.

Tata Kelola dan Kemitraan Strategis

Prof. Lukman juga menyoroti pentingnya penguatan tata kelola perguruan tinggi melalui prinsip Good University Governance. Menurutnya, kelembagaan perlu semakin transparan, profesional, adaptif, dan memiliki ruang gerak yang lebih fleksibel dalam membangun kerja sama strategis.

Konsep entrepreneurial university dapat menjadi salah satu pendekatan dalam memperkuat kemandirian kelembagaan. Dengan tata kelola yang baik, perguruan tinggi dapat lebih leluasa mengembangkan inovasi, membangun jejaring, serta menjalin kemitraan dengan berbagai pihak.

Selain itu, aliansi strategis antar-PTKIN dan kemitraan dengan perguruan tinggi luar negeri perlu terus diperluas. Kerja sama tersebut dapat diwujudkan melalui pertukaran dosen dan mahasiswa, kolaborasi riset, pengembangan kurikulum, serta berbagai program akademik internasional.

“Penguatan kolaborasi dan inovasi harus menjadi gerakan bersama. PTKIN tidak cukup hanya meningkatkan kualitas internal, tetapi juga harus membangun jejaring nasional dan internasional agar mampu berkontribusi dalam ekosistem pendidikan tinggi Islam dunia,” ujar Prof. Dr. H. Lukman Hakim.

Ia berharap Kegiatan Nasional Fordetak FTK Indonesia Tahun 2026 menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antar-Fakultas Tarbiyah dan Keguruan di Indonesia dalam melahirkan inovasi pendidikan guru Islam yang unggul, adaptif, berkarakter, dan memiliki daya saing global.

Dengan demikian, tema “Strengthening Collaboration and Innovation in Islamic Teacher Education Toward World-Class PTKIN” diharapkan tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi dapat diwujudkan melalui program nyata, kolaborasi berkelanjutan, dan inovasi yang berdampak bagi kemajuan pendidikan Islam di Indonesia maupun dunia.