Ketika Kampus Inklusif Tidak Berhenti di Pintu Masuk: Cerita Pendampingan Mahasiswa Tuli


Jambinews.id | Pendidikan - Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi masih menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Provinsi Jambi yang membuka jalur penerimaan mahasiswa baru bagi penyandang disabilitas. Langkah tersebut menjadi wujud komitmen kampus dalam memperluas akses pendidikan tinggi yang setara bagi semua kalangan.

Sejak jalur tersebut dibuka pada 2020, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi telah mengantarkan 30 mahasiswa penyandang disabilitas menempuh pendidikan tinggi. Mahasiswa Tuli menjadi kelompok terbanyak. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa kesempatan mengenyam pendidikan tinggi semakin terbuka.

Bagi sebagian mahasiswa Tuli, Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) merupakan bahasa yang paling mereka kuasai. Namun, bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa utama dalam materi kuliah, buku ajar, maupun instruksi tugas. Perbedaan struktur kedua bahasa tersebut membuat sebagian mahasiswa Tuli memerlukan usaha lebih untuk memahami bacaan akademik dan menyusun tulisan dalam bahasa Indonesia.

Respons Kampus dalam Memberikan Solusi

Kesulitan mahasiswa Tuli tampak ketika dosen memberikan tugas dengan instruksi yang panjang atau menggunakan istilah yang belum familier. Tidak jarang mereka harus meminta bantuan teman sekelas atau relawan pendamping untuk menjelaskan kembali maksud tugas tersebut. Akibatnya, waktu yang dibutuhkan untuk memahami instruksi menjadi lebih lama sehingga penyelesaian tugas pun sering tertunda.

Permasalahan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan inklusif tidak berhenti pada penerimaan mahasiswa baru. Mahasiswa Tuli juga membutuhkan akses terhadap informasi yang mudah dipahami agar dapat belajar secara lebih mandiri. Di tengah perkembangan kecerdasan artifisial (AI), peluang untuk mewujudkan hal tersebut semakin terbuka.

Melalui program Kukerta Rekognisi, volunter difabel di bawah naungan Pusat Gender, Anak, dan Disabilitas UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi berupaya menjawab kebutuhan tersebut melalui pelatihan pemanfaatan AI sebagai pendamping belajar. Tujuannya bukan sekadar memperkenalkan teknologi, melainkan membantu mahasiswa Tuli berkomunikasi dengan AI menggunakan prompt yang tepat sehingga informasi yang diperoleh menjadi lebih mudah dipahami.

Pendampingan berlangsung selama kurang lebih 40 hari. Sebelum kegiatan dimulai, dosen pembimbing lapangan, Agus Slamet Nugroho, M.I.Kom., mengajak seluruh volunter berdiskusi untuk membagi tugas dan menyusun rencana kegiatan. Arahan dan Bimbingan tersebut menjadi landasan dalam menyusun seluruh rangkaian pendampingan.

Pelaksanaan Kukerta Rekognisi

Program pendampingan dilaksanakan dalam empat sesi. Sesi pertama berfokus pada pengenalan konsep dasar serta pentingnya prompt dalam memanfaatkan AI. Sesi kedua diisi dengan praktik penggunaan AI melalui pendampingan langsung oleh volunter. Sesi ketiga memperkenalkan pemanfaatan aplikasi speech-to-text, penggunaan subtitle pada Zoom maupun Google Meet, serta praktik penggunaannya. Sesi terakhir berisi pengenalan berbagai layanan akademik kampus, seperti SITAMA, SIPANDU, ujian bahasa, serta ujian tahsin dan tahfiz Al-Qur’an.

Pada tiga sesi awal, volunter berperan sebagai pemateri yang mengenalkan berbagai platform AI beserta cara menggunakannya dalam proses perkuliahan. Mahasiswa diperkenalkan pada AI untuk membantu menjelaskan materi kuliah dengan bahasa yang lebih sederhana, menyusun bahan presentasi, serta membaca dan menjelaskan isi dokumen yang diunggah. Penekanan utama terletak pada kemampuan memilih platform yang sesuai dengan kebutuhan.

Mahasiswa kemudian diajak memahami bahwa kualitas jawaban AI sangat bergantung pada kualitas prompt yang diberikan. Mereka berlatih menyusun prompt yang spesifik, misalnya, “Jelaskan paragraf ini menggunakan bahasa Indonesia yang sederhana karena saya adalah mahasiswa Tuli yang kesulitan memahami kalimat panjang.” Contoh lain yang digunakan ialah, “Jelaskan materi ini seperti menjelaskan kepada anak kecil.” Pendekatan tersebut membantu AI menghasilkan jawaban yang lebih mudah dipahami sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Memasuki sesi berikutnya, metode pendampingan diubah menjadi lebih personal. Setiap volunter mendampingi satu mahasiswa Tuli sehingga proses belajar dapat berlangsung lebih intensif. Pendampingan secara individual memungkinkan mahasiswa mencoba berbagai prompt, mengevaluasi hasil yang diperoleh, kemudian memperbaiki pertanyaan hingga mendapatkan jawaban yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.

Proses pendampingan tidak selalu berjalan mulus. Dalam beberapa kesempatan, terdapat kosakata yang sulit dijelaskan melalui bahasa isyarat atau belum dipahami oleh mahasiswa. Untuk mengatasi hambatan tersebut, kami memanfaatkan aplikasi speech-to-text. Kalimat yang diucapkan volunter secara otomatis diubah menjadi teks sehingga mahasiswa dapat membaca penjelasan secara langsung. Cara sederhana ini terbukti membantu memperjelas komunikasi sekaligus mempercepat proses pendampingan.

Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis. Mahasiswa diingatkan bahwa jawaban AI tidak selalu benar sehingga tetap perlu dibandingkan dengan sumber lain dan dipahami secara kritis sebelum digunakan.

Pesan tersebut mendapat respons menarik dari salah seorang mahasiswa Tuli. “Aku pernah meminta AI membuat resep makanan yang sedang viral. Setelah mengikuti seluruh langkah yang diberikan, hasil masakannya justru tidak sesuai harapan,” ujar Zaki melalui bahasa isyarat. 

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa literasi AI bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, melainkan juga kemampuan menyusun pertanyaan yang tepat, menyaring informasi, dan mengevaluasi jawaban yang diberikan.

Dari Volunter untuk Teman Tuli

Agar manfaat pendampingan tetap dirasakan setelah program Kukerta berakhir, volunter juga menyusun video tutorial aplikasi yang dikenalkan sebelumnya. Kemudian video langkah demi langkah tentang cara menyusun prompt yang efektif. Seluruh materi disusun menggunakan bahasa yang sederhana disertai contoh-contoh yang dekat dengan aktivitas perkuliahan mahasiswa Tuli. Dengan demikian, mahasiswa tidak harus bergantung pada kehadiran volunter ketika ingin mengingat kembali materi yang telah dipelajari.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan inklusif tidak hanya diukur dari banyaknya mahasiswa penyandang disabilitas yang diterima di perguruan tinggi. Yang jauh lebih penting adalah memastikan mereka memperoleh kesempatan yang sama untuk memahami materi perkuliahan, menyelesaikan tugas secara mandiri, serta memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijaksana. AI dapat menjadi jembatan menuju tujuan tersebut, tetapi jembatan itu hanya akan kokoh apabila dibangun di atas pendampingan, literasi digital, dan kepedulian manusia.