Jambinews.id | Jambi - Kabut asap kembali menyelimuti Kota Jambi, Jumat (18/9/2026). Kondisi tersebut membuat kualitas udara memburuk dan masuk kategori sangat tidak sehat, sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko paparan polusi udara.
Berdasarkan pemantauan kualitas udara pada Jumat sore, kondisi udara Kota Jambi menunjukkan peningkatan konsentrasi partikulat halus PM2.5. Pemantauan IQAir pada pukul 15.10 WIB mencatat AQI US berada di angka 224 dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 148,4 mikrogram per meter kubik.
Juru Bicara Pemerintah Kota Jambi, Saleh Ridho, mengatakan kualitas udara sempat mengalami perbaikan pada pagi hari, namun kembali memburuk ketika kabut asap semakin pekat pada sore hari.
“Kondisi udara hari ini masuk kategori sangat tidak sehat. Pagi tadi sempat membaik, berkurang di level tidak sehat. Sore ini lantaran kabut mulai tampak pekat, kualitas udara kembali memburuk di level sangat tidak sehat,” ujar Saleh.
Menurutnya, kondisi kualitas udara yang memburuk telah terjadi selama beberapa hari terakhir. Pemerintah Kota Jambi mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak memiliki keperluan mendesak serta menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
Kabut Asap Mulai Mengganggu Aktivitas Warga
Kabut asap terlihat semakin pekat di sejumlah kawasan Kota Jambi. Kondisi tersebut membuat langit tampak kekuningan karena sinar matahari tertutup asap, sementara jarak pandang di beberapa lokasi ikut menurun.
Dampaknya juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Selain bau asap yang cukup kuat, warga mengeluhkan mata terasa perih ketika berada di luar ruangan.
Kondisi ini menjadi perhatian karena kualitas udara yang berada pada kategori sangat tidak sehat dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Karhutla Jambi Tembus 3.048 Hektare
Memburuknya kualitas udara Kota Jambi terjadi di tengah masih berlangsungnya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi.
Data Satgas Karhutla Jambi per 16 September 2026 mencatat luas lahan yang terbakar sepanjang tahun ini mencapai 3.048,68 hektare. Kebakaran tersebar di sejumlah wilayah Provinsi Jambi.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat perkembangan kabut asap dan kualitas udara di Jambi.
Sebaran asap juga tidak hanya dirasakan di pusat Kota Jambi. Sejumlah wilayah lain di Provinsi Jambi turut melaporkan kondisi udara yang terdampak kabut asap.
Pemkot Jambi Perpanjang Pembelajaran Jarak Jauh
Dampak memburuknya kualitas udara juga berpengaruh terhadap sektor pendidikan. Pemerintah Kota Jambi sebelumnya telah memperpanjang pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi jenjang TK/PAUD, SD dan SMP mulai 17 September 2026.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Wali Kota Jambi Nomor 29 Tahun 2026 tentang Antisipasi Dampak Pencemaran Udara terhadap Kegiatan Belajar Mengajar.
Pemkot Jambi menjadikan kondisi ISPU sebagai salah satu dasar dalam menentukan moda pembelajaran. Ketika ISPU berada pada rentang 201–300 atau kategori sangat tidak sehat, kegiatan pembelajaran dilaksanakan secara jarak jauh dan pembelajaran tatap muka dihentikan sementara.
Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa persoalan kabut asap tidak hanya berdampak terhadap kualitas lingkungan, tetapi juga mulai memengaruhi aktivitas pendidikan dan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat Kota Jambi diimbau rutin memantau perkembangan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.
Warga yang harus beraktivitas di luar ruangan dianjurkan menggunakan masker dan mengurangi paparan asap. Kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan, perlu mendapat perhatian lebih.
Masyarakat juga diminta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas, iritasi mata atau gangguan pernapasan lainnya yang semakin berat.
Kondisi kabut asap di Jambi saat ini menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan pencegahan kebakaran lahan, tetapi juga menyangkut kualitas udara, kesehatan masyarakat, pendidikan, serta aktivitas ekonomi dan sosial warga.

0 Komentar