Menguak Misteri Mataram di Jambi: Ketua Baznas & Akademisi Telusuri Makam Lawas di Mudung Darat

Jambinews.id - MUARO JAMBI – Upaya penyelamatan dan penggalian warisan sejarah Jambi yang terpendam kembali bergulir. Baru-baru ini, Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Jambi, Dr. Muhamad Padli, bersama civitas akademika UIN Sulthan Thaha Saifuddin (Sutha) Jambi dan tim peneliti dari Pusat Data Arkeologi dan Sejarah (PUDAS), turun langsung ke Desa Mudung Darat, Kecamatan Maro Sebo, Muaro Jambi, untuk menelusuri makam-makam kuno.

Kunjungan pada 29 November 2015 ini memiliki misi vital: memverifikasi dan mendokumentasikan kisah-kisah keramat yang dihormati turun-temurun, terutama yang berkaitan dengan legenda Kramat Sualan, Putri Sulastri, dan Putri Cipiring.

Jejak Buyut Sriwalan, Pelarian dari Mataram II

Penelusuran awal tim gabungan menemukan keterkaitan sejarah Desa Mudung Darat dengan tokoh legendaris bernama Buyut Sriwalan. Dikisahkan, Buyut Sriwalan adalah sosok berpengaruh dan berkesaktian dari Kerajaan Mataram II.

"Buyut Sriwalan melarikan diri dari Pulau Jawa karena sakit hati setelah gagal mendapatkan kedudukan. Ia tiba di Jambi dan diangkat sebagai pengetua adat oleh Sultan Jambe (Sultan Abdul Rahman)," demikian riwayat yang berhasil dihimpun tim.

Tokoh Buyut Sriwalan inilah yang diyakini sebagai cikal bakal pendiri desa. Bahkan, nama desa tersebut berawal dari peristiwa unik: ia menamai kampungnya Pudung—kemudian berkembang menjadi Mudung—karena melihat kijangmas peliharaannya memakan buah pudung (bunga buah petai). Karena dibangun di dataran tinggi, desa itu kini dikenal sebagai Mudung Darat.

Menyelamatkan Aset Sejarah yang Belum Terekspos

Meskipun kisah lengkap mengenai hubungan Kramat Sualan, Putri Sulastri, dan Putri Cipiring masih menjadi misteri, tim peneliti menduga ketiganya adalah tokoh keramat lokal atau pendiri yang memiliki ikatan spiritual maupun kekerabatan dengan Buyut Sriwalan.

Kisah para pahlawan lokal ini merupakan fondasi identitas masyarakat Mudung Darat, yang diwariskan hanya melalui tradisi lisan. Dr. Padli dan tim kolaborasi Baznas-UIN Sutha-PUDAS kini berkomitmen untuk melanjutkan penggalian data dengan berinteraksi langsung bersama tetua adat.

Tujuan akhirnya adalah memperoleh narasi yang autentik dan lengkap. Hal ini penting, terutama untuk menyelamatkan aset sejarah yang belum mendapatkan perhatian pemerintah dan belum terekspos oleh masyarakat Jambi secara umum. Diharapkan, upaya ini akan menarik perhatian semua pihak untuk melestarikan warisan budaya Mudung Darat.