Madu Tidak Sekadar Lebah : Ketika Akasia Menjadi Budaya dan Penggerak Ekonomi Desa Danau Lamo


Oleh: Yusri Striana (Manajer Pusat Perlebahan Nasional, Bogor)

Jambinews.id | Nasional - Di tepian Sungai Batanghari, sekitar tiga puluh menit dari Kompleks Percandian Muaro Jambi, Desa Danau Lamo perlahan menemukan wajah ekonomi barunya. Selama bertahun-tahun masyarakat mengenal kawasan di sekeliling desa sebagai bagian dari bentang Hutan Tanaman Industri (HTI) akasia yang menjadi pemasok bahan baku industri pulp dan kertas nasional. Pohon- pohon Acacia crassicarpa tumbuh di atas ekosistem gambut Sumatra, dipanen secara berkala, kemudian diolah menjadi pulp dan berbagai produk kertas yang dipasarkan hingga mancanegara.

Namun di balik fungsi utamanya sebagai penghasil kayu serat, bentang hutan tanaman tersebut ternyata menyimpan potensi lain yang tidak kalah bernilai. Setiap hari jutaan lebah madu (Apis mellifera) mengumpulkan nektar ekstraflora dari tegakan akasia. Aktivitas biologis yang sebelumnya nyaris tidak diperhitungkan dalam pengelolaan hutan tanaman kini berkembang menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat desa.

Madu tidak lagi dipandang sekadar sebagai hasil hutan bukan kayu. Ia telah menjadi sumber penghidupan, ruang belajar, media edukasi lingkungan, atraksi wisata, dan bagian dari identitas baru Desa Danau Lamo.


Belajar dari Tradisi, Beralih ke Budidaya 

Perubahan itu tidak terjadi begitu saja.

Menurut Roni, Sekretaris Desa Danau Lamo, masyarakat sebenarnya sudah lama akrab dengan madu. Jauh sebelum budidaya lebah modern berkembang, warga Danau Lamo telah mengenal dan memanfaatkan madu sialang yang dihasilkan lebah liar Apis dorsata. Madu sialang bahkan sudah cukup dikenal hingga ke luar daerah dan menjadi bagian dari pengetahuan lokal masyarakat setempat.

Dari pengalaman itulah tumbuh keinginan untuk tidak hanya mengambil madu dari alam, tetapi juga mencoba membudidayakan lebah secara lebih teratur.

Awalnya masyarakat mencoba memelihara lebah lokal Apis cerana. Pada masa itu, Apis mellifera belum dikenal luas di Danau Lamo. Namun seiring waktu, hasil budidaya Apis cerana belum menunjukkan produktivitas yang memuaskan bagi para peternak. Produksi madu relatif terbatas, dan skala usaha sulit berkembang secara cepat.

Kemudian datang sebuah titik balik.

Melalui pertemuan dengan rekanan dan peternak lain, masyarakat diperkenalkan pada lebah Apis mellifera. Jenis lebah ini ternyata jauh lebih produktif dan menarik bagi masyarakat desa. Dari situlah muncul dorongan baru untuk mengembangkan peternakan lebah secara lebih serius dan massal.

Pada tahap berikutnya, masyarakat Danau Lamo mulai belajar dari para peternak lebah asal Pulau Jawa. Mereka datang membawa pengalaman panjang dalam budidaya lebah migrasi, terutama dari sentra-sentra perlebahan di Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti Pati, Temanggung, Malang, Kediri, dan beberapa daerah lain yang sejak lama dikenal sebagai basis peternakan lebah.

Namun menurut Roni, ada satu hal penting yang sering luput dipahami.

"Intinya memang kami belajar dari peternak Pulau Jawa. Tapi setahu saya, untuk masuknya lebah itu, setelah perlebahan di Danau Lamo dan Jambi umumnya mulai booming, barulah para peternak Pulau Jawa juga mulai migrasi lebah secara besar- besaran ke Sumatera," ujarnya.

Dengan kata lain, Danau Lamo bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi salah satu titik awal berkembangnya ekosistem perlebahan modern di Sumatra.



Belajar dari Para Perantau

Migrasi peternak Jawa adalah hal yang tidak dapat dihindari, mengingat mereka selama puluhan tahun menggantungkan kehidupan dengan mengikuti musim berbunga berbagai tanaman penghasil nektar di Pulau Jawa. Perubahan iklim membuat musim berbunga semakin sulit diprediksi. Pada saat yang sama, berbagai tanaman pakan lebah terus menyusut karena perubahan penggunaan lahan menuju aktivitas ekonomi yang memiliki nilai lebih tinggi. Jalur migrasi tradisional yang selama puluhan tahun menopang produksi madu nasional perlahan kehilangan daya dukungnya.

Di tengah kondisi tersebut, Sumatra menghadirkan harapan baru. Hamparan hutan tanaman akasia yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pulp dan kertas justru menyediakan sumber nektar yang relatif stabil bagi lebah madu. Para peternak migran pun mulai menjadikan Riau dan Jambi sebagai tujuan utama perpindahan koloni mereka.

Mereka bawa bukan hanya ribuan kotak lebah, tetapi juga membawa pengalaman, membawa keterampilan, membawa budaya beternak lebah yang diwariskan selama puluhan tahun.

Tanpa ruang kelas dan tanpa pelatihan formal, pengetahuan berpindah melalui praktik sehari-hari di apiari. Masyarakat Desa Danau Lamo belajar memilih ratu lebah, memperbanyak koloni, mengendalikan penyakit, membaca perubahan cuaca, hingga memanen madu dengan tetap menjaga kesehatan koloni.

Dari proses belajar yang berlangsung alami tersebut, lahirlah generasi baru peternak lebah di Sumatra, di Desa Dano Lamo, Muara Jambi.

Roni: Dari Pembelajar Menjadi Penggerak Desa

Salah satu yang mengalami proses tersebut adalah Roni, Sekretaris Desa Danau Lamo.

Awalnya ia hanya membantu aktivitas para peternak asal Jawa. Namun semakin sering berinteraksi, semakin besar pula ketertarikannya terhadap dunia perlebahan.

Kini Roni bukan hanya menjadi peternak lebah. Ia juga menjadi penampung madu yang dihasilkan masyarakat Danau Lamo dan desa-desa di sekitarnya. Dari rumahnya, madu dikumpulkan, diperiksa kualitasnya, kemudian dipasarkan kepada berbagai pembeli.

Sebagai Sekretaris Desa, Roni juga menjadi penghubung komunikasi antara kelompok peternak dengan pengelola HTI akasia. Menurutnya, komunikasi yang baik menjadi kunci agar kegiatan operasional perusahaan dan usaha masyarakat dapat berjalan berdampingan.

"Perusahaan tetap menjalankan fungsi utamanya menghasilkan kayu sebagai bahan baku pulp dan kertas. Sementara masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari madu. Kalau komunikasinya baik, keduanya bisa berjalan bersama," ujarnya.

Hubungan tersebut menjadi semakin penting karena peternakan lebah sangat dipengaruhi oleh pengelolaan lanskap. Informasi mengenai kegiatan operasional, penggunaan pestisida, maupun aktivitas pemanenan kayu perlu diketahui bersama agar koloni lebah tetap terlindungi.

Membangun Kelembagaan Desa

Melihat berkembangnya usaha perlebahan, Pemerintah Desa Danau Lamo mulai memberikan dukungan kelembagaan. Budidaya lebah tidak lagi dipandang sebagai usaha individu, tetapi sebagai salah satu strategi pembangunan ekonomi desa.

Kelompok peternak diperkuat agar mampu meningkatkan kapasitas produksi, menjaga mutu madu, memperluas jaringan pemasaran, dan membangun kemitraan dengan berbagai pihak.

Pendekatan tersebut membuka ruang kolaborasi antara masyarakat, perusahaan pengelola HTI, pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, hingga organisasi yang memiliki perhatian terhadap pembangunan lingkungan dan sosial.


Lebah Menggerakkan Ekonomi Desa

Menurut Roni, saat ini masyarakat Danau Lamo telah mengelola lebih dari 1.000 koloni atau kotak pemeliharaan lebah Apis mellifera.

Dengan produktivitas rata-rata sekitar 30-40 kilogram madu per koloni setiap tahun, desa menghasilkan sekitar 30-40 ton madu setiap tahunnya. Pada harga madu curah di tingkat peternak sekitar Rp22.000 per kilogram selama tahun 2025, nilai ekonomi yang beredar di masyarakat diperkirakan mencapai sekitar Rp660 juta hingga Rp880 juta setiap tahun.

Namun bagi Roni, angka tersebut baru merupakan langkah awal. "Kalau sekarang jumlahnya sudah lebih dari seribu koloni. Untuk mencapai seratus ribu koloni tentu masih sangat jauh. Tetapi itu bisa menjadi tantangan yang menarik apabila pengelolaannya semakin baik dan semua pihak terus memberikan dukungan," katanya.

Menurutnya, yang jauh lebih penting bukan sekadar mengejar jumlah koloni, melainkan memastikan bahwa usaha perlebahan mampu tumbuh secara sehat, berkelanjutan, dan memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas.

Perubahan itu kini mulai terlihat.

"Perlebahan sekarang sudah memberi warna dan menghidupi sebagian warga Danau Lamo. Bukan hanya peternak dan pengepul madu yang merasakan manfaatnya. Tukang kayu yang membuat kotak lebah, pengrajin perlengkapan budidaya, penjual galon dan botol kemasan madu, jasa angkutan, sampai pedagang kecil juga ikut memperoleh manfaat dari berkembangnya usaha ini," tutur Roni.

Kesaksian tersebut menunjukkan bahwa madu memiliki efek berganda yang jauh lebih besar daripada nilai jual produknya.

Setiap koloni lebah menciptakan aktivitas ekonomi baru yang melibatkan berbagai profesi di desa.

Perputaran ekonomi tidak berhenti pada hasil panen madu.

Ia menggerakkan usaha pembuatan stup lebah, perdagangan perlengkapan budidaya, industri kemasan, jasa logistik, hingga usaha mikro yang tumbuh mengikuti perkembangan sektor perlebahan.


Ketika Lebah Menjadi Atraksi Wisata Budaya

Perjalanan madu akasia di Danau Lamo kemudian berkembang ke arah yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Lebah mulai menjadi bagian dari identitas desa.

Sebagai desa budaya yang berada di kawasan Muaro Jambi, Danau Lamo selama ini dikenal melalui kegiatan susur Sungai Batanghari dan kedekatannya dengan Kompleks Percandian Muaro Jambi.

Kini masyarakat menawarkan pengalaman baru.

"Pengunjung sekarang tidak hanya datang melihat candi atau mengikuti susur sungai. Mereka juga bisa melihat langsung proses budidaya lebah, menyaksikan panen madu, bahkan mendapatkan edukasi mengenai kehidupan lebah dan pentingnya menjaga lingkungan," jelas Roni.

Atraksi tersebut memberi nilai tambah yang membedakan Danau Lamo dari desa-desa lain di sekitarnya.

Wisatawan tidak sekadar menikmati warisan budaya dan panorama sungai, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar mengenai hubungan antara lebah, hutan tanaman, dan keberlanjutan lingkungan.

Secara tidak langsung, wisata edukasi perlebahan menjadi media untuk membangun kesadaran bahwa menjaga ekosistem merupakan tanggung jawab bersama.

Melalui lebah, masyarakat menjelaskan kepada pengunjung bahwa keberhasilan menghasilkan madu sangat bergantung pada kualitas lingkungan, keberadaan tanaman berbunga, pengelolaan hutan yang bertanggung jawab, serta praktik budidaya yang ramah terhadap penyerbuk.

Di titik ini, Danau Lamo tidak hanya menjual pengalaman wisata alam dan budaya, tetapi juga membuka ruang bagi jasa wisata, jasa kuliner, dan ekonomi kreatif. Wisatawan dapat menikmati madu akasia sebagai minuman, bahan pangan, atau oleh-oleh khas. Mereka juga dapat mencicipi kuliner lokal yang dipadukan dengan madu, sekaligus membeli kerajinan tangan khas Danau Lamo yang mengangkat motif lebah, akasia, dan identitas Melayu Jambi.

Lebih jauh lagi, desa budaya ini memiliki nilai tambah melalui eksposur warisan budaya dalam bentuk pakaian adat, tata pergaulan, dan model hubungan antar manusia serta antar keluarga yang masih dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Bagi pengunjung, pengalaman itu bukan hanya soal melihat lebah, tetapi juga memahami bagaimana masyarakat membangun relasi sosial yang saling menopang, gotong royong, dan penuh rasa percaya.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi mulai menjadikan peternakan lebah sebagai salah satu ikon pengembangan ekonomi kreatif yang terintegrasi dengan wisata budaya dan wisata susur sungai.


Menuju Nilai Ekonomi Total Desa Berbasis Perlebahan

Jika saat ini Danau Lamo baru mengelola lebih dari 1.000 koloni, maka 100.000 koloni masih merupakan visi jangka panjang. Namun justru di situlah letak tantangannya yang menarik.

Apabila suatu saat kawasan Danau Lamo bersama desa-desa di sekitarnya mampu mengembangkan sekitar 100.000 koloni Apis mellifera, dengan produktivitas rata-rata 30-40 kilogram madu per koloni setiap tahun, maka produksi madu dapat mencapai sekitar 3.000-4.000 ton per tahun.

Pada tingkat harga madu curah sekitar Rp22.000 per kilogram sebagaimana terjadi pada tahun 2025, nilai transaksi madu di tingkat peternak diperkirakan mencapai Rp66–88 miliar setiap tahun.

Namun nilai tersebut sesungguhnya hanyalah permukaan dari manfaat yang dapat dihasilkan.

Perlebahan menciptakan rantai pasok ekonomi yang jauh lebih panjang. Semakin banyak koloni yang dipelihara, semakin besar kebutuhan terhadap kayu untuk pembuatan stup, tenaga tukang kayu, pengrajin perlengkapan perlebahan, produsen lilin pondasi, penyedia pakan tambahan, penjual galon dan botol kemasan, jasa percetakan label, transportasi, pergudangan, perdagangan madu, hingga berkembangnya usaha mikro yang mengolah madu menjadi berbagai produk pangan dan kesehatan. Dalam skenario 100.000 koloni, pasar untuk kotak lebah saja sudah sangat besar. Jika satu kotak membutuhkan investasi rata- rata Rp150.000-Rp250.000, maka nilai awal perangkat koloni dapat mencapai Rp15-25 miliar. Bahkan jika hanya 10-15 persen kotak yang perlu diganti atau diperbaiki setiap tahun, maka perputaran ekonomi tahunan dari pembuatan dan perawatan kotak lebah masih bisa berada pada kisaran Rp1,5- 3,75 miliar.

Di sektor jasa, peluangnya bahkan lebih luas.

Desa dapat mengembangkan wisata edukasi perlebahan, wisata susur Sungai Batanghari, wisata budaya yang terhubung dengan Kompleks Percandian Muaro Jambi, paket pengalaman memanen madu, kelas edukasi penyerbuk untuk pelajar, hingga wisata kuliner yang mengangkat madu akasia sebagai identitas gastronomi lokal.

Jika pada skenario 100.000 koloni desa mampu menarik 50.000- 100.000 pengunjung per tahun dengan belanja rata-rata Rp75.000-Rp150.000 per orang, maka nilai langsung dari jasa wisata dapat mencapai sekitar Rp3,75–15 miliar per tahun.

Masyarakat juga memiliki peluang mengembangkan kerajinan tangan khas Danau Lamo, mulai dari anyaman, ukiran kayu, kemasan madu berbasis kriya lokal, hingga produk suvenir yang mengangkat motif lebah, akasia, dan warisan budaya Melayu Jambi. Jika dikembangkan secara serius, sektor ini dapat menambah perputaran ekonomi sekitar Rp2–5 miliar per tahun.

Warisan budaya tersebut tidak berhenti pada benda.

Ia juga dapat hidup melalui pertunjukan seni, busana tradisional, cerita rakyat, pola hubungan antar keluarga, tradisi gotong royong, serta tata nilai masyarakat yang selama ini menjadi kekuatan Desa Danau Lamo. Dalam konteks wisata budaya, nilai ini sangat penting karena memberi pengalaman yang otentik dan membedakan Danau Lamo dari destinasi lain.

Di sisi lain, keberadaan ribuan koloni lebah juga menciptakan efek berganda yang kuat dalam ekosistem usaha perlebahan.

Satu koloni tidak hanya menghasilkan madu, tetapi juga memicu permintaan terhadap stup, paku, kawat, botol, galon, label, jasa desain kemasan, jasa angkutan, jasa penyimpanan, jasa pemasaran digital, hingga jasa kuliner dan layanan wisata. Dengan kata lain, satu koloni dapat menghidupkan banyak mata rantai ekonomi sekaligus. Yang tidak kalah penting adalah manfaat ekologinya.

Semakin banyak masyarakat menggantungkan penghidupan pada jasa ekosistem hutan tanaman, semakin besar pula kepentingan mereka untuk menjaga keberlanjutan kawasan.

Masyarakat akan menjadi bagian dari sistem pencegahan kebakaran hutan dan lahan, karena asap merupakan ancaman langsung bagi kelangsungan hidup koloni lebah. Mereka juga memiliki kepentingan untuk menjaga keamanan hutan, mencegah ilegal logging, dan mengawasi gangguan terhadap kawasan produksi maupun kawasan penyangga.

Di lanskap yang lebih luas, keberadaan peternak lebah juga dapat memperkuat keamanan kebun sawit dan area perkebunan lain melalui pengawasan sosial berbasis komunitas. Aktivitas rutin peternak, mobilitas harian, dan komunikasi yang intensif dengan pengelola lanskap membuat mereka menjadi mata tambahan di lapangan yang membantu mendeteksi potensi gangguan lebih dini.

Jika seluruh komponen itu dihitung secara konservatif, maka nilai ekonomi total desa berbasis perlebahan pada skenario 100.000 koloni dapat melampaui Rp80–130 miliar per tahun, bahkan lebih tinggi jika produk turunan, wisata, dan jasa lingkungan berkembang lebih matang. Angka ini belum termasuk nilai tak berwujud seperti berkurangnya risiko kebakaran, meningkatnya keamanan kawasan, menguatnya kohesi sosial, dan terjaganya identitas budaya desa.

Dengan demikian, madu hanyalah pintu masuk. Nilai sesungguhnya terletak pada ekosistem ekonomi yang tumbuh di sekelilingnya.


Kolaborasi Menjadi Fondasi Masa Depan

Meskipun peluangnya besar, masa depan madu akasia tetap memerlukan tata kelola yang baik.

Penguatan kelembagaan peternak, komunikasi yang terbuka dengan pengelola HTI mengenai penggunaan pestisida dan kegiatan operasional, pengembangan sumber polen melalui tanaman pendukung maupun inovasi polen pengganti, peningkatan mutu madu, serta perluasan akses pasar menjadi pekerjaan bersama yang harus terus dikembangkan.

Peran pemerintah menjadi penting dalam memfasilitasi pendampingan, penelitian, pembiayaan, dan pengembangan kapasitas masyarakat. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian dapat memperkuat inovasi budidaya, sementara sektor swasta dan organisasi masyarakat sipil berkontribusi dalam membangun rantai nilai yang lebih adil dan berkelanjutan.

Dalam konteks yang lebih luas, kolaborasi juga diperlukan untuk menjaga lanskap dari kebakaran, perambahan, dan aktivitas ilegal lain yang dapat merusak sumber penghidupan masyarakat. Ketika peternak lebah, perusahaan, pemerintah desa, dan masyarakat sekitar memiliki kepentingan yang sama terhadap keamanan kawasan, maka perlindungan lingkungan tidak lagi menjadi beban satu pihak, melainkan menjadi tanggung jawab bersama.


Madu adalah Budaya, Bukan Sekadar Komoditas

Kisah Desa Danau Lamo menunjukkan bahwa seekor lebah mampu menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada madu.

Lebah menjadi media transfer pengetahuan antara peternak migran dari Jawa dan masyarakat local, memperkuat kelembagaan desa, menggerakkan ekonomi Masyarakat, menghadirkan atraksi wisata baru, menjadi sarana pendidikan lingkungan bagi generasi muda, ikut menjaga hutan, mencegah kebakaran, memperkuat pengawasan sosial, dan membangun kepedulian terhadap keamanan lanskap.

Lebah juga membuka ruang bagi jasa wisata, jasa kuliner, kerajinan tangan khas Danau Lamo, serta eksposur warisan budaya melalui pakaian adat, tata pergaulan, dan model hubungan antar manusia serta antar keluarga yang menjadi ciri kehidupan desa.

Dan lebah membangun kolaborasi antara masyarakat, pengelola hutan tanaman industri, pemerintah, perguruan tinggi, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pembangunan sosial dan pelestarian lingkungan.

Pada akhirnya, madu bukan lagi sekadar produk hasil hutan bukan kayu. Di Desa Danau Lamo, madu telah menjadi bagian dari budaya, identitas, dan harapan masa depan.

Dari bentang hutan tanaman akasia yang sejak awal dibangun untuk memasok bahan baku industri pulp dan kertas, masyarakat menemukan ruang ekonomi baru yang lahir dari jasa ekosistem. Kisah ini menunjukkan bahwa ketika pengetahuan, kelembagaan desa, dunia usaha, pemerintah, dan kepedulian terhadap lingkungan berjalan bersama, hutan tanaman tidak hanya menghasilkan kayu, tetapi juga melahirkan kesejahteraan, memperkuat budaya lokal, menjaga keamanan lanskap, dan membuka jalan menuju bioekonomi yang inklusif dan berkelanjutan

Mungkin inilah babak baru pengelolaan hutan tanaman Indonesia. Hutan tidak lagi dipandang semata sebagai ruang produksi kayu. Melainkan sebagai lanskap kehidupan yang menghasilkan nilai ekonomi, nilai sosial, nilai budaya, dan nilai ekologis secara bersamaan. Dan semua itu dimulai dari sesuatu yang sangat kecil. Seekor lebah.

Namun dari dengungan lebah itulah, masa depan baru bagi Desa Danau Lamo-dan mungkin juga bagi pembangunan hutan tanaman Indonesia-sedang ditulis.