Dari Kepalsuan Cinta Menuju Cinta Sejati


(Refleksi Tahun Baru Hijriah 1448 H)

Oleh; Dr. Pahmi. Sy, S.Ag, M.Si (Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (Wakil Rektor 2) UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi)

Jambinews.id | Opini - Tahun Baru Hijriah 1448 H bukan sekadar pergantian angka dalam penanggalan Islam. Ia adalah momentum untuk melakukan hijrah batin, berpindah dari kecintaan yang semu menuju cinta yang hakiki, dari keterikatan kepada dunia menuju kedekatan dengan Allah Swt.

Kehidupan dunia yang serba gemerlap dan terkadang juga menyedihkan, banyak ditemukan model-model cinta yang terungkap dari jejak para pencinta, seperti cinta buta, cinta palsu, cinta rahasia, cinta dalam khayalan. Adapun yang lebih dahsyat lagi Para pecinta mengatasnamakan Tuhan, Agama, iman, kemanusiaan, negara, tanah air, pemerintah, rakyat dan sebagainya, padahal itu semua adalah semu dan penuh dengan kepalsuan.

Cinta terkadang tidak hanya palsu, tetapi cinta sudah kehilangan rasa dan bahkan mati, seperti pembunuhan, penistaan, perampasan hak-hak rakyat, korupsi, pembodohan dan kekuasaan yang menindas sesama umat manusia dan mengeksploitasi lingkungan tanpa memikirkan keberlanjutan. Atas nama cinta manusia dengan segala kekuasaannya menjarah sesama dan makhluk hidup lainnya.

Di tengah arus modernisasi dan perkembangan teknologi informasi, makna cinta sering mengalami pergeseran. Tidak sedikit hubungan antarmanusia yang dibangun atas dasar kepentingan ekonomi, status sosial, popularitas, atau keuntungan tertentu. Cinta kemudian berubah menjadi transaksi sosial yang sarat dengan perhitungan. Dalam konteks inilah muncul apa yang dapat disebut sebagai kepalsuan cinta, yaitu relasi yang tampak penuh kasih, tetapi sesungguhnya didorong oleh motif-motif pragmatis.

Manusia sering terjebak dalam berbagai bentuk "kepalsuan cinta". Cinta diukur dari materi, popularitas, kedudukan, atau keuntungan sesaat. Tidak sedikit hubungan dibangun atas dasar kepentingan, bukan ketulusan. Ketika kepentingan hilang, cinta pun memudar. Inilah cinta yang rapuh, cinta yang bergantung pada sesuatu yang fana.

Antropolog Prancis Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa relasi manusia sering dipengaruhi oleh berbagai bentuk modal, seperti modal ekonomi, sosial, budaya, dan simbolik. Dalam konteks ini, hubungan yang tampak sebagai cinta bisa saja sesungguhnya merupakan pertukaran kepentingan. Seseorang dicintai bukan karena dirinya, tetapi karena apa yang dimilikinya.

Dalam perspektif antropologi konflik, kekerasan dan pembunuhan dilakukan atas nama cinta, karena manusia memandang orang yang dicintainya sebagai "milik" yang harus dikuasai, ketika kepemilikan itu terancam, maka lahirlah kemarahan dan kekerasan. Padahal cinta yang hakiki justru menghormati kebebasan dan martabat orang lain. "Bukan cinta yang membunuh, melainkan ego yang menyamar sebagai cinta"

Adalah KH. Mustofa Bisri yang lebih akrab dipanggil Gus Mus yang mengingatkan kita semua, dalam konteks tahun baru hijriah melalui bait-bait puisinya:

"Kawan sudah tahun baru lagi, Belum juga tibakah saatnya kita, Menunduk memandang diri sendiri, Bercermin firman Tuhan sebelum kita dihisab-Nya. Kawan, siapakah kita ini sebenarnya?. Muslimkah, mukminin, muttaqin,, Khalifah Allah, umat Muhammadkah kita?, Khairul ummatinkah kita?, Atau kita sama saja dengan makhluk lain, Atau bahkan lebih rendah lagi, Hanya budak-budak perut dan kelamin."

Pesan utama puisi ini adalah bahwa tahun baru seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kualitas iman, ibadah, dan pengabdian kita kepada Allah serta sesama manusia? Apakah kita sudah menjadi pecinta sejati, tanpa pamrih, tanpa campuran, mencintai semata-mata karena Sang Pemilik Cinta?

Dalam tradisi tasawuf, tokoh sufi agung Rabi’ah al-Adawiyah mengajarkan cinta yang murni kepada Allah. Ia berdoa, "Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, jauhkanlah aku darinya. Tetapi jika aku menyembah-Mu karena cinta kepada-Mu, jangan Engkau haramkan aku dari memandang keindahan-Mu." Ungkapan ini menunjukkan puncak cinta spiritual yang tidak didasarkan pada pamrih apa pun selain kerinduan kepada Sang Pencipta. Cinta sejati tidak berpusat pada diri sendiri, melainkan pada pengabdian dan ketulusan.

Hijrah Rasulullah saw. mengajarkan bahwa perubahan sejati dimulai dari hati. Perjalanan dari Makkah ke Madinah bukan hanya perpindahan geografis, tetapi juga transformasi spiritual. Hijrah mengajak manusia untuk meninggalkan segala bentuk ketergantungan yang menjauhkan diri dari Allah menuju kehidupan yang dipenuhi keimanan, keikhlasan, dan pengabdian.

Tahun Baru Hijriah menjadi saat yang tepat untuk bertanya kepada diri sendiri: kepada apa sesungguhnya cinta kita tertuju? Apakah hati kita lebih sibuk mengejar pengakuan manusia daripada mencari ridha Allah? Apakah ibadah kita lahir dari cinta atau sekadar rutinitas?

Hijrah yang paling berat bukanlah berpindah tempat, melainkan berpindah dari hati yang lalai menuju hati yang sadar. Dari cinta yang palsu menuju cinta yang tulus. Dari kehidupan yang berpusat pada diri sendiri menuju kehidupan yang berpusat pada Allah.

Semoga Tahun Baru Hijriah 1448 H menjadi titik awal hijrah spiritual bagi kita semua; hijrah dari kepalsuan cinta menuju cinta sejati Ilahi, cinta yang menenangkan jiwa, menguatkan iman, dan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dunia serta akhirat.

Selamat Tahun Baru Islam 1448 H. Cinta yang lahir bisa berubah, cinta yang bertemu bisa berpisah, cinta yang bersemi bisa layu, "Hijrahkan hati, sucikan cinta, dan dekatkan diri kepada Allah Yang Maha Cinta." Pecinta sejati membebaskan diri dari penjara dunia yang fana, dan menemukan kekasihnya dalam keabadian yang kekal selamanya.