Jembatan Inovasi bagi Generasi Muda Penyelamat Tari Inai

Jambinews.id - Jambi  - Di panggung Gedung Runtuh, Kuala Tungkal, Sabtu malam (28/06/2025), sebuah paradoks waktu terjadi. Lima belas anak remaja mengenakan busana teluk belango dan baju kurung berwarna cerah yang mencolok, bergerak dengan ritme yang melampaui usia mereka. 

Di tengah gempuran budaya layar dan musik digital yang instan, para siswa SD dan SMP ini justru tengah melakukan tindakan "subversif": mereka sedang menjemput tradisi abad ke-18 yang nyaris terlupakan, yakni Tari Inai.

Pergelaran ini bukan sekadar seremoni biasa. Ia adalah puncak dari misi penyelamatan melalui skema Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan, yang dijalankan lewat kolaborasi antara Yayasan Gena Nusantara, para maestro, dan komunitas lokal. Fokus utamanya satu: memastikan Tari Inai tidak berhenti pada ingatan generasi tua.

Memutus Rantai Kepunahan

Ristanto, Peneliti Sastra Lisan dari Balai Bahasa Provinsi Sumatera Selatan, memberikan gambaran yang sangat teknis mengenai ancaman yang dihadapi tradisi ini.

"Kita tidak sedang bicara soal hobi, tapi soal keberlanjutan identitas. Angka indeks daya hidup 0,40 untuk Tari Inai adalah sinyal bahwa proses pewarisan alami dalam keluarga telah putus," jelasnya.

Menurut Ristanto, metode pewarisan lama yang bersifat lisan dan mengandalkan pengamatan spontan sudah tidak lagi efektif di era modern.

"Generasi muda membutuhkan media yang lebih terstruktur dan menarik. Itulah mengapa pergelaran inovatif ini menjadi sangat strategis. Kita memindahkan proses magang tradisional ke dalam format workshop dan pementasan karya inovatif agar anak-anak merasakan kebanggaan (pride) saat membawakannya," tambahnya.

Bahasa Baru untuk Tradisi Lama

Taufik Hidayat, Direktur Yayasan Gena Nusantara, menyadari bahwa untuk menarik minat generasi muda, Tari Inai harus bisa "berbicara" dalam bahasa zaman sekarang tanpa kehilangan jiwanya. 

Inovasi yang dihadirkan dalam pergelaran ini meliputi aransemen musik yang melibatkan biola dan akordeon dengan nuansa yang lebih sinematik, hingga tata lampu panggung yang dramatis.

"Inovasi adalah jembatan. Jika kita hanya menyajikan Tari Inai secara mentah sebagaimana seratus tahun lalu, anak-anak mungkin akan merasa asing," kata Taufik. 

"Maka, kami meramu cerita, musik, dan tari dengan sentuhan modern. Kami memanfaatkan media pembelajaran film dokumenter maestro untuk memperlihatkan sisi heroik tokoh-tokoh seperti Hang Tuah dan Putri Siti Zubaidah yang direpresentasikan dalam tarian ini. Hasilnya, anak-anak tidak merasa sedang belajar 'barang antik', melainkan sedang terlibat dalam karya seni pertunjukan yang megah."

Taufik menekankan bahwa kolaborasi dengan Dana Indonesiana memungkinkan yayasan untuk menciptakan ekosistem pelatihan yang intensif. 

Selama masa persiapan, para siswa tidak hanya dilatih bergerak, tetapi juga didedahkan pada makna filosofis bahwa Tari Inai adalah "doa yang bergerak" untuk keselamatan dan keberkahan.

Maestro dan Tongkat Estafet

Di sudut panggung, Datuk Zainuddin atau yang akrab disapa Cik Udin, memperhatikan setiap gerak langkah murid-muridnya. 

Sebagai satu-satunya maestro yang tersisa, beban sejarah yang dipikulnya sangat berat. Namun, malam itu, raut wajahnya tampak lega.

"Dulu, sulit sekali mengajak anak-anak mau ikut latihan. Mereka lebih suka main gawai," ujar Cik Udin. "

Tapi dengan adanya pergelaran yang dikemas bagus seperti ini, mereka jadi bersemangat. Mereka melihat bahwa tradisi mereka dihargai secara nasional. Inilah cara kita menitipkan tongkat estafet. Saya ajarkan mereka rahasia gerakan silat dalam Tari Inai, dan mereka membawakannya dengan energi muda yang luar biasa.

Bagi Cik Udin, melihat 15 penutur muda ini tampil di depan 200 penonton termasuk Wakil Bupati dan tokoh-tokoh adat adalah bukti bahwa Tari Inai bisa kembali menjadi ikon pariwisata dan kebanggaan daerah.

Kegiatan ini membuktikan bahwa penyelamatan objek pemajuan kebudayaan yang rawan punah membutuhkan sinergi antara dana negara, riset akademis, dan kreativitas komunitas. 

Tari Inai kini telah bertransformasi dari sebuah ritual privat di malam pernikahan menjadi sebuah karya seni publik yang mampu menarik perhatian lintas generasi.

Malam di Kuala Tungkal itu menutup satu babak perjuangan, namun membuka pintu baru bagi regenerasi. Dengan video pertunjukan yang diunggah ke kanal YouTube sebagai produk akhir, pengetahuan sang maestro kini telah "terekam" dan siap diakses oleh siapa saja. Tari Inai tidak lagi sekadar menjadi fosil sejarah; ia telah bernapas kembali di tangan generasi muda Jambi.