Jambinews.id - Di puncak kemegahan Gedung Mahligai Bank 9 Jambi, tepatnya di lantai 4 yang elegan, sebuah peristiwa "Ngasah Kaji" (Mengasah Kaji) mendobrak sekat antara protokoler birokrasi dan kedalaman spiritual. Kamis, 12 Februari 2026, menjadi saksi bagaimana otoritas finansial tertunduk khidmat bukan di depan layar saham, melainkan di depan kebenaran hakiki.
Bukan aroma kertas dokumen yang memenuhi ruangan, melainkan uap gurih Lontong Tunjang dan Sambal Teri khas Jambi yang menjadi "teman diskusi" kelas tinggi. Di sana, para pemegang otoritas Direktur Utama beserta jajaran Pejabat Teras Bank Jambi melepas atribut jabatan mereka untuk menjadi murid kehidupan.
Simfoni Dua Jam: Ketika Logika Bankir Bertekuk Lutut
Pertemuan ini adalah sekuel yang jauh lebih emosional. Selama 120 menit yang krusial, ruang pertemuan itu berubah menjadi medan dialektika yang panas namun menyejukkan. "Hujan" pertanyaan tajam mengenai korelasi ekonomi modern dan hukum langit dilontarkan oleh para bankir ini dengan rasa haus akan kebenaran.
Dengan ketenangan yang menghanyutkan, Ketua BAZNAS Kota Jambi didampingi Wakil Ketua I, membedah tiga pilar fundamental yang menggugah nalar:
- Fiqh yang Membumi: Mendefinisikan ulang bahwa zakat bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan mekanisme pembersihan energi harta.
- Tasawuf yang Menyejukkan: Membedah anatomi ketamakan manusia dan bagaimana "melepaskan" justru merupakan cara terbaik untuk "memiliki".
- Transformasi Sosial: Memaparkan peta jalan zakat sebagai senjata pamungkas dalam memerangi kemiskinan secara struktural dan spiritual.
Kudapan Habis, Nurani Terisi
Seiring perlahan habisnya kuah tunjang di piring, terkikis pula ego-ego sektoral di dalam hati. Di meja makan itu, tidak ada lagi jarak antara birokrat keuangan dan ulama. Yang tersisa hanyalah kumpulan manusia yang sedang "mengisi ulang" batin mereka. Canda tawa yang pecah bukan sekadar basa-basi, melainkan ekspresi kelegaan atas jawaban-jawaban yang selama ini terkunci oleh logika materi.
Manifesto Terakhir: Investasi Tanpa Risiko
Pertemuan memuncak pada sebuah Closing Statement dari Ketua BAZNAS Kota Jambi yang seolah menghentikan aliran waktu di ruangan tersebut. Sebuah kalimat yang kini bergema sebagai manifesto bagi setiap pemilik harta di Jambi:
"Harta yang kita makan hanya akan berakhir menjadi kotoran. Harta yang kita simpan rapat-rapat akan menjadi warisan yang berpotensi memicu perebutan. Namun, harta yang kita zakatkan, itulah investasi sejati satu-satunya aset yang akan membela kita dengan gagah berani di hadapan Tuhan.”
Narasi dari Lantai 4 Mahligai 9 ini bukan sekadar catatan makan siang biasa. Ini adalah sebuah refleksi global bahwa kebijakan finansial yang paling visioner adalah kebijakan yang berani melibatkan "Tangan Tuhan" di dalamnya.
