Jambinews.id - JAMBI, INDONESIA - Di sebuah sudut Kota Jambi, sebuah terobosan sosial sedang dibentuk di atas meja makan yang bersahaja. Pada Jumat pagi (6/2), sebuah pertemuan antara otoritas zakat lokal (BAZNAS) dan lembaga jaminan sosial nasional (BPJS Ketenagakerjaan) menandai babak baru dalam cara dunia memandang perlindungan bagi pekerja rentan.
Diplomasi di Atas Piring: Lontong Tunjang dan Keadilan Sosial
Eropa mungkin mengenal diplomasi kopi di Wina, namun di Jambi, "Diplomasi Lontong Tunjang" menjadi katalisatornya. Ketua BAZNAS Kota Jambi, didampingi Wakil Ketua I, Bapak Fakhruddin, SE, melakukan kunjungan strategis ke kantor BPJS Ketenagakerjaan yang dipimpin oleh Bapak Hendra Alvian.
Pertemuan yang berlangsung hangat antara pukul 09.00 hingga 11.00 WIB ini bukan sekadar kunjungan kehormatan. Di balik sajian tradisional yang akrab, terdapat agenda besar untuk mengintegrasikan dana religius kuno ke dalam sistem asuransi modern yang canggih.
Menyasar yang Tak Terjangkau: "Penjaga Langit" dalam Radar Proteksi
Inti dari kerja sama ini adalah sebuah upaya kemanusiaan yang mendalam. Selama dekade terakhir, sektor informal seperti pengurus rumah ibadah—Imam, Muazin, dan Marbot—seringkali berada di luar radar sistem perlindungan negara. Mereka adalah "pekerja esensial" dalam struktur sosial, namun tanpa jaring pengaman jika risiko kerja terjadi.
Melalui sinergi ini, dana Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS) dialokasikan secara presisi untuk membayar premi perlindungan bagi mereka. Model ini menawarkan tiga pilar utama:
- Akses Medis Tanpa Batas: Perlindungan terhadap kecelakaan kerja yang menjamin pemulihan total tanpa kendala biaya.
- Ketahanan Keluarga: Santunan kematian yang menjamin keluarga yang ditinggalkan tidak jatuh ke dalam jurang kemiskinan ekstrem.
- Keberlanjutan Generasi: Dukungan pendidikan bagi anak-anak pengurus masjid, memastikan masa depan mereka tetap terjaga.
Paradigma Baru: Dari Amal Menjadi Investasi Sosial
Apa yang terjadi di Jambi hari ini adalah refleksi dari pergeseran global dalam pengelolaan dana filantropi. Ini bukan lagi sekadar bantuan jangka pendek yang bersifat konsumtif, melainkan transformasi menuju perlindungan risiko yang sistematis.
Jambi sedang membuktikan bahwa ekonomi berbasis iman (faith-based economy) dapat berjalan beriringan dengan standar jaminan sosial negara. Ini adalah pesan kuat tentang inklusivitas: bahwa tidak ada seorang pun, sekecil apa pun perannya dalam masyarakat, yang boleh dibiarkan menghadapi risiko hidup sendirian.
Analisis Singkat: Mengapa Ini Penting bagi Dunia?
Di tengah laporan global mengenai kesenjangan sosial yang melebar, inisiatif dari Jambi ini menawarkan oase. Dengan menyisir celah-celah kemiskinan yang sering terlewatkan oleh kebijakan birokratis, kolaborasi ini menciptakan standar baru bagi keadilan sosial yang berbasis lokal namun berdampak global.
