Guru Sejati Mengabdi Tanpa Henti



Catatan Yudisium dan Pengukuhan Guru Profesional Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Auditorium Kampus II UIN STS Jambi, 6 Juni 2026

Oleh: Dr. Pahmi, S.Ag., M.Si. (Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan UIN STS Jambi)

Jambinews.id - Opini - Salah satu ungkapan yang sangat populer dalam tradisi pendidikan Islam dan sering dikaitkan dengan Ali bin Abi Thalib adalah:

"Aku adalah hamba bagi orang yang mengajariku satu huruf. Jika ia mau, ia boleh menjualku, memerdekakanku, atau tetap menjadikanku sebagai hambanya."
(Ana 'abdun liman 'allamanī harfan wāhidan).

Meskipun para ulama memiliki pandangan yang beragam mengenai kekuatan sanad riwayat tersebut, ungkapan ini telah lama hidup dalam khazanah pendidikan Islam sebagai simbol penghormatan yang tinggi terhadap guru dan ilmu pengetahuan. Nilai tersebut juga tercantum dalam kitab Ta'lim al-Muta'allim yang menjadi rujukan penting dalam tradisi pembelajaran Islam.

Kemuliaan seorang guru juga ditegaskan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, melalui falsafah pendidikan yang sangat terkenal:

"Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani."

Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberikan dorongan. Filosofi ini tetap relevan hingga saat ini sebagai pedoman bagi setiap pendidik dalam menjalankan tugas dan pengabdiannya.

Guru sejati adalah guru yang profesional sekaligus berintegritas. Ia tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan metodologi pembelajaran, tetapi juga memiliki komitmen moral yang kuat dalam menjalankan amanah pendidikan. Profesionalisme dan integritas merupakan dua fondasi utama yang harus berjalan beriringan dalam membentuk sosok guru yang berkualitas.

Sebagai seorang profesional, guru dituntut memiliki penguasaan yang mendalam terhadap bidang ilmu yang diajarkannya serta terus memperbarui wawasan sesuai perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan zaman. Guru harus mampu merencanakan, melaksanakan, serta mengevaluasi proses pembelajaran secara efektif dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik. Selain itu, guru senantiasa berupaya meningkatkan kompetensi dirinya melalui berbagai kegiatan pengembangan profesi, pelatihan, penelitian, dan aktivitas ilmiah lainnya.

Di sisi lain, integritas menjadi karakter yang tidak dapat dipisahkan dari profesi guru. Guru harus menunjukkan perilaku yang jujur, disiplin, santun, bertanggung jawab, serta mampu menjadi teladan bagi peserta didik. Integritas tercermin dalam kejujuran menjalankan tugas, objektivitas dalam penilaian, serta komitmen menjaga kepercayaan yang diberikan oleh peserta didik, orang tua, dan masyarakat. Guru juga harus menjunjung tinggi kode etik profesi dan menjaga martabat profesi keguruan agar tetap menjadi pilar kepercayaan publik.

Lebih dari itu, guru adalah pelayan kemanusiaan. Ia membangun hubungan yang harmonis dengan peserta didik, sesama guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat. Guru memperlakukan seluruh peserta didik secara adil tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, agama, suku, maupun gender. Dalam perspektif yang lebih luas, profesi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan pengabdian untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk karakter generasi masa depan.

Dalam kegiatan Yudisium dan Pengukuhan Guru Profesional ini, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN STS Jambi menegaskan pentingnya membangun guru profesional yang berbasis Islamic entrepreneurship, yaitu guru yang tidak hanya unggul dalam kompetensi akademik dan pedagogik, tetapi juga memiliki jiwa produktif, inovatif, kreatif, serta mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi yang diwakili oleh Dr. Dedi Irama Silalahi menyampaikan harapan agar para guru yang telah dinyatakan lulus dan dikukuhkan sebagai guru profesional dapat segera memenuhi berbagai kewajiban administrasi dan pelaporan kegiatan profesinya. Hal tersebut penting sebagai bagian dari proses pembinaan karier dan pemenuhan hak-hak profesional yang akan diperhitungkan pada tahun anggaran berikutnya.

Rektor UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd., dalam arahannya menekankan bahwa guru sejati harus terus meningkatkan kompetensinya agar semakin profesional dalam menjalankan tugas pendidikan. Guru juga harus menjaga integritas diri sehingga memiliki kepribadian yang matang dan menjadi teladan di tengah masyarakat. Selain kompetensi profesional dan kepribadian, guru perlu memiliki kompetensi sosial yang kuat, ditandai dengan kemampuan membangun empati, kepedulian, serta kepekaan terhadap berbagai persoalan sosial di lingkungan sekitarnya. Guru harus mampu menghadirkan manfaat, baik bagi institusi tempatnya mengabdi maupun bagi masyarakat luas. Semangat peningkatan kompetensi dan penguatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi salah satu agenda strategis yang terus didorong oleh UIN STS Jambi.

Pada akhirnya, guru sejati adalah sosok yang mengabdi tanpa henti. Ia menjadi teladan kehidupan, penjaga nilai dan etika, sekaligus pelita yang menerangi jalan peradaban. Tugasnya tidak berhenti di ruang kelas, tetapi terus hidup melalui ilmu yang diajarkan, karakter yang dibentuk, dan inspirasi yang ditanamkan kepada generasi penerus bangsa.

Boleh jadi guru dikenal sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa", tetapi sesungguhnya jasa dan ilmunya tidak pernah berhenti mengalir. Setiap ilmu yang diamalkan oleh murid-muridnya akan menjadi amal kebaikan yang terus berlanjut, bahkan hingga kehidupan yang abadi.

Semoga Allah SWT senantiasa memuliakan para guru, menguatkan langkah pengabdiannya, dan menjadikan ilmu yang diajarkan sebagai amal jariyah yang tak terputus. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.