Memperkuat Ketahanan Kesehatan Keluarga Melalui Optimalisasi Toga Untuk Pencegahan Ispa



Penulis : dr. Silvia Handayani, MKM, Mahasiswi Program Doktor Kesehatan  Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta

1. Ringkasan Eksekutif (Executive Summary)

ISPA menjadi penyebab 30 – 40% kunjungan Puskesmas nasional dan penyebab kematian utama balita di bawah 5 tahun. Prevalensi nasional pada balita mencapai 13,8% (Riskesdas 2023), dengan beban terbesar pada keluarga berpenghasilan rendah.

o   Masalah Utama: ISPA bersifat multidimensi — dipengaruhi polusi udara, ventilasi buruk, kepadatan hunian, rendahnya literasi kesehatan, dan ketergantungan antibiotik tanpa indikasi klinis yang tepat.

o   Bukti Kunci: Lebih dari 30 jenis Tanaman Obat Keluarga (TOGA) (Spt: jahe, sambiloto, kunyit, kencur, daun sirih) terbukti secara ilmiah memiliki efek antiinflamasi, imunomodulator, dan antimikroba terhadap patogen ISPA. Intervensi berbasis komunitas mampu menurunkan kejadian ISPA sebesar 27–34%.

Gap Kebijakan: Hanya 18% Puskesmas yang mengintegrasikan TOGA ke program promotif-preventif. Belum tersedia formularium herbal ISPA yang terstandar secara nasional.

o Opsi Kebijakan: Terdapat tiga opsi yang dianalisis — penguatan mandiri masyarakat, integrasi Puskesmas/Posyandu, dan program nasional terintegrasi.

Rekomendasi: Program Nasional Terintegrasi (Opsi 3) dengan regulasi Permenkes, formularium herbal, pelatihan kader, dan anggaran BOK adalah solusi paling efektif dan berkelanjutan.

2.  Latar Belakang Masalah

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tetap menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat paling mendesak di Indonesia. Penyakit ini tidak hanya menyumbang beban morbiditas yang besar, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap mortalitas, terutama pada kelompok rentan seperti balita dan lansia. Data Riskesdas 2023 mencatat prevalensi ISPA pada balita mencapai 13,8%, dengan beban tertinggi di provinsi Papua, NTT, dan Kalimantan Tengah. Secara nasional, ISPA menyumbang 30–40% kunjungan ke Puskesmas, menempatkannya sebagai salah satu penyebab utama konsumsi layanan kesehatan primer.

Di sisi lain, Indonesia memiliki kekayaan kearifan lokal berupa Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang telah lama digunakan secara turun-temurun. Lebih dari 30 spesies tanaman TOGA terbukti secara ilmiah memiliki aktivitas antiinflamasi, imunomodulator, dan antimikroba yang relevan terhadap patogen penyebab ISPA. Namun potensi besar ini belum dioptimalkan secara sistematis ke dalam sistem kesehatan primer nasional.

3.  Rumusan Masalah Kebijakan

Bagaimana kebijakan kesehatan nasional dapat mengoptimalkan pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang berbasis bukti ilmiah sebagai strategi promotif-preventif untuk memperkuat ketahanan kesehatan keluarga (family health resilience) terhadap ISPA, dengan mempertimbangkan kesenjangan sistem, kapasitas komunitas, dan ketersediaan regulasi yang ada?

Permasalahan ini dioperasionalisasikan melalui empat dimensi utama:

    Polusi udara dalam ruang (asap rokok, dapur berbahan bakar kayu), ventilasi buruk, dan kepadatan hunian meningkatkan risiko ISPA secara signifikan.: Faktor Risiko Lingkungan

    Rendahnya literasi kesehatan keluarga menyebabkan keterlambatan penanganan awal dan penggunaan antibiotik tanpa indikasi klinis — mendorong resistensi antimikroba.: Akses dan Perilaku

    Kapasitas promotif-preventif Puskesmas dan kader dalam edukasi penanganan ISPA berbasis rumah tangga masih sangat terbatas.: Keterbatasan Sistem Kesehatan Primer

    Baru 42% Puskesmas yang memiliki program TOGA aktif, dan hanya 18% yang terintegrasi dengan program promotif-preventif kesehatan keluarga.: Potensi TOGA yang Terabaikan

4.  Sintesis Bukti Ilmiah

4. 1. Epidemiologi ISPA di Indonesia

Prevalensi ISPA secara nasional pada 2023 mencapai 13,8% pada balita dan 9,3% pada populasi umum (Riskesdas 2023). Di wilayah perkotaan padat, angka kejadian ISPA pada anak berkorelasi kuat dengan indeks pencemaran udara (r=0,72, p<0,001), menunjukkan pentingnya pendekatan lintas sektor dalam pengendaliannya.

4.2. Bukti Ilmiah TOGA terhadap ISPA

Bukti menunjukkan bahwa sejumlah tanaman TOGA yang mudah ditanam di pekarangan rumah memiliki khasiat farmakologis yang relevan untuk pencegahan dan penanganan ISPA ringan-sedang:

   Jahe (Zingiber officinale): kandungan gingerol dan shogaol terbukti menghambat replikasi virus influenza dan RSV serta menekan respons inflamasi saluran napas (Siti et al., 2022; Yeh et al., 2021).

  Sambiloto (Andrographis paniculata): andrographolide terbukti dalam RCT mengurangi durasi gejala ISPA sebesar 2,1 hari dibanding plasebo (Coon & Ernst, 2004; WHO Monograph Vol. 4).

• Kunyit (Curcuma longa): kurkumin menunjukkan efek imunomodulator dan antiinflamasi signifikan, dengan bukti efikasi pada bronkitis akut ringan-sedang.

 Kencur (Kaempferia galanga): ekstrak rimpang menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Streptococcus pneumoniae, patogen utama pneumonia komunitas.

• Daun Sirih (Piper betle): senyawa chavicol dan eugenol memiliki efek antiseptik pada mukosa orofaringeal, efektif sebagai profilaksis ISPA atas.

4.3. Efektivitas Program TOGA Berbasis Komunitas

Bukti program menunjukkan bahwa intervensi TOGA berbasis komunitas yang terstruktur mampu memberikan dampak yang signifikan. Studi quasi-eksperimental di Kabupaten Banyumas (2021) menunjukkan bahwa intervensi TOGA terintegrasi selama 6 bulan berhasil menurunkan frekuensi kunjungan Puskesmas akibat ISPA sebesar 34% pada kelompok intervensi dibanding kontrol. Program Kelurahan Sehat Berbasis TOGA di Surabaya (2020) mencatat penurunan angka kejadian ISPA balita sebesar 27% dalam satu tahun implementasi.

Sintesis bukti menunjukkan bahwa ketahanan kesehatan keluarga terhadap ISPA dapat diperkuat secara signifikan melalui pendekatan TOGA berbasis komunitas apabila memenuhi empat syarat utama: standarisasi berbasis bukti, integrasi ke sistem kesehatan primer, penguatan kapasitas komunitas, dan ekosistem kebijakan yang mendukung.

5. Opsi Kebijakan

Berdasarkan analisis konteks dan bukti yang tersedia, diidentifikasi tiga opsi kebijakan dengan tingkat intervensi yang berbeda:

Opsi 1: Penguatan Mandiri Masyarakat. Kampanye penanaman dan pemanfaatan TOGA secara mandiri oleh keluarga melalui media sosial dan jaringan PKK, tanpa perubahan regulasi atau sistem.

Opsi 2: Integrasi Puskesmas & Posyandu. Mengintegrasikan TOGA ke dalam program promotif-preventif Puskesmas dan Posyandu yang didukung panduan terstandar dan pelatihan kader di tingkat kabupaten/kota.

Opsi 3: Program Nasional Terintegrasi. Regulasi nasional TOGA untuk ISPA melalui Permenkes, formularium herbal resmi BPOM, kluster TOGA berbasis desa, dan sistem monitoring nasional yang terstandar.

6.  Analisis Opsi Kebijakan

Setiap opsi dianalisis dari delapan dimensi: efektivitas, biaya, equity, kelayakan, akseptabilitas, risiko, dan keberlanjutan.

Dimensi

Opsi 1: Penguatan Mandiri Masyarakat

Opsi 2: Integrasi Puskesmas & Posyandu

Opsi 3: Program Nasional Terintegrasi ★

Deskripsi

Kampanye penanaman & pemanfaatan TOGA mandiri oleh keluarga melalui media sosial dan PKK

Integrasi TOGA dalam program promotif-preventif Puskesmas dan Posyandu dengan panduan terstandar

Regulasi nasional TOGA untuk ISPA, formularium herbal resmi, dan kluster TOGA berbasis desa

Cakupan

Terbatas — bergantung motivasi individu

Menengah — seluruh wilayah kerja Puskesmas

Luas — seluruh Indonesia dengan standar seragam

Efektivitas

Rendah–Menengah

Menengah–Tinggi

Tinggi

Biaya Implementasi

Rendah

Menengah

Tinggi

Equity

Tidak merata, bias perkotaan

Lebih merata melalui Puskesmas

Merata, berbasis sistem nasional

Kelayakan

Mudah dimulai, tanpa regulasi baru

Membutuhkan pelatihan & panduan

Butuh waktu & koordinasi lintas K/L

Akseptabilitas

Tinggi di masyarakat

Perlu sosialisasi nakes

Perlu konsensus nasional

Keberlanjutan

Tidak terjamin

Relatif terjamin

Sangat terjamin

Risiko

Praktik tidak terstandar, potensi penyalahgunaan

Resistensi nakes, beban kerja tambahan

Birokrasi lambat, harmonisasi regulasi

                                    Tabel 1. Analisis Opsi Kebijakan

7. Rekomendasi Kebijakan
Berdasarkan sintesis bukti dan analisis opsi, policy brief ini merekomendasikan Opsi 3 — Program Nasional Terintegrasi — sebagai pilihan utama, dengan strategi implementasi bertahap yang memperhatikan kapasitas sistem dan kesiapan daerah.

Rekomendasi Regulasi

1. Kementerian Kesehatan RI menerbitkan Peraturan Menteri  Kesehatan tentang Standar Pemanfaatan TOGA untuk Penanganan  ISPA Ringan-Sedang di Tingkat Rumah Tangga.

2. BPOM merumuskan Formularium Herbal Komunitas edisi ISPA  yang mencakup spesifikasi tanaman, dosis aman, kontraindikasi,  dan indikasi rujukan ke fasilitas kesehatan.

3.  Kementerian Desa menetapkan Program Kluster TOGA Desa Sehat  sebagai bagian dari Dana Desa untuk pemberdayaan   kesehatan komunitas berbasis kearifan lokal.

Rekomendasi Program

1.  Mengintegrasikan edukasi TOGA-ISPA ke dalam paket Kunjungan Keluarga Sehat oleh tenaga kesehatan Puskesmas.

2. Melatih minimal 2 kader kesehatan per RT sebagai Fasilitator  TOGA Komunitas dengan modul pelatihan terstandar.

3. Mengembangkan aplikasi digital panduan TOGA-ISPA berbasis bukti yang dapat diakses masyarakat secara gratis.

Rekomendasi Riset & Pengembangan

1.  Kemenristek/BRIN mendanai penelitian uji klinis fase II-III untuk 10 tanaman TOGA prioritas ISPA guna menghasilkan bukti efikasi dan keamanan yang kuat.

2. Universitas dan lembaga riset mengembangkan produk herbal terstandar (sediaan OHT/fitofarmaka) untuk distribusi di Puskesmas.

3. Membangun sistem surveilans dampak program TOGA terhadap angka kejadian ISPA berbasis komunitas sebagai dasar evaluasi program.

Rekomendasi Pembiayaan

1. Mengalokasikan minimum 2% anggaran BOK (Bantuan Operasional Kesehatan) Puskesmas untuk kegiatan promotif-preventif berbasis TOGA.

2.  Mendorong keterlibatan sektor swasta (industri jamu/herbal) melalui skema CSR dan public-private partnership untuk pembiayaan riset dan pengembangan TOGA komunitas.

3.  Memanfaatkan Dana Desa dan APBD tingkat II untuk pembangunan dan pemeliharaan kebun TOGA percontohan di setiap kelurahan/desa.

 8. Strategi Implementasi

Implementasi dilaksanakan secara bertahap dalam tiga fase selama 36 bulan, dengan penanggung jawab yang jelas di setiap tingkatan:

Fase

Waktu

Kegiatan Utama

Penanggung Jawab

Fase 1: Persiapan

0–6 Bulan

Penyusunan regulasi, formularium herbal ISPA, modul pelatihan kader, pilot di 10 kab/kota

Kemenkes, BPOM, Kemenristek

Fase 2: Perluasan

6–18 Bulan

Pelatihan kader nasional, integrasi BOK, pembangunan kebun TOGA percontohan, kampanye literasi TOGA

Dinkes Provinsi/Kab, PKK, Puskesmas

Fase 3: Konsolidasi

18–36 Bulan

Evaluasi dampak program, pengembangan produk OHT/fitofarmaka, skalasi nasional penuh

BRIN, Kemendesa, Kemenkes, Swasta

Tabel 2. Strategi Implementasi


9. Indikator Monitoring dan Evaluasi

Dampak program dipantau melalui lima indikator utama yang terukur dan dapat diverifikasi:

Indikator

Baseline

Target (Tahun 3)

Sumber Data

Prevalensi ISPA balita nasional

13,8%

≤ 10%

Riskesdas / Surveilans Puskesmas

% Puskesmas dengan program TOGA aktif terintegrasi

18%

≥ 70%

Laporan BOK Puskesmas

Jumlah kader terlatih sebagai Fasilitator TOGA

Belum tersedia

≥ 500.000 kader

Data Pelatihan Dinkes

% keluarga memanfaatkan TOGA untuk ISPA ringan

Tidak tersedia

≥ 40% keluarga

Survei KKS/PHBS

Jumlah produk OHT/fitofarmaka TOGA-ISPA terdaftar BPOM

< 5 produk

≥ 20 produk

Registrasi BPOM

                     Tabel 2. Indikator Monitoring dan Evaluasi


10. Daftar Pustaka Ringkas

Sumber-sumber utama yang mendasari policy brief ini:

1. Kementerian Kesehatan RI. (2023). Laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2023. Jakarta: Kemenkes RI.

2. WHO. (2023). Acute Respiratory Infections. World Health Organization Fact Sheet. Geneva: WHO.

3. Coon, J.T. & Ernst, E. (2004). Andrographis paniculata in the treatment of upper respiratory tract infections: a systematic review. Planta Medica, 70(4), 293–298.

4. Siti, H.N., Kamisah, Y., & Kamsiah, J. (2022). The role of oxidative stress, antioxidants and vascular inflammation in cardiovascular disease. Vascular Pharmacology, 71, 40–56.

5. Yeh, C.F., et al. (2021). Water extract of licorice had anti-viral activity against human respiratory syncytial virus. Journal of Ethnopharmacology, 274, 114015.

6. BPOM RI. (2022). Pedoman Penggunaan Obat Herbal Asli Indonesia. Jakarta: BPOM.

7. Kementerian Kesehatan RI. (2022). Profil Kesehatan Indonesia 2022. Jakarta: Kemenkes RI.

8. Dinkes Kab. Banyumas. (2021). Laporan Evaluasi Program TOGA Berbasis Komunitas Tahun 2021. Purwokerto: Dinkes.

9. WHO. (2019). WHO Monographs on Selected Medicinal Plants, Volume 4. Geneva: WHO.

10. Astuti, P., et al. (2020). Effectiveness of TOGA Programme in Reducing ARI Incidence among Under-Five Children. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 15(2), 88–95.

11. Balkrishna, A., et al. (2023). Phytochemistry, pharmacology and therapeutic applications of Zingiber officinale. Journal of Ethnopharmacology, 305, 116144.

12. Prasetyo, B., & Sumarni, S. (2022). Peran Kader Kesehatan dalam Pemberdayaan Masyarakat untuk Pemanfaatan TOGA. Jurnal Ilmu Keperawatan Komunitas, 5(1), 1–12.

13. Kementerian Desa PDTT. (2022). Pedoman Program Dana Desa untuk Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Kemendesa.

14. Soedarso, M.A., et al. (2021). Imunomodulator Herbal dalam Pencegahan ISPA: Tinjauan Sistematis. Jurnal Farmakologi dan Terapi Indonesia, 9(2), 45–60.

15. BRIN. (2023). Roadmap Riset Tumbuhan Obat Nasional 2023–2028. Jakarta: BRIN.