Dari Kecelakaan hingga Yudisium, Kisah Arip Menuntaskan Kuliah di Tengah Keterbatasan


Jambinews.id | Pendidikan - Perjalanan Arip, S.Si, mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sultan Thaha Saifuddin (STS) Jambi, menjadi kisah tentang keteguhan, dukungan keluarga, dan lingkungan kampus yang inklusif.

Arip mengawali kuliahnya dalam kondisi sehat seperti mahasiswa pada umumnya. Namun, perjalanan itu berubah setelah ia mengalami kecelakaan sepeda motor pada 2020. Dalam kecelakaan tersebut, ia ditabrak oleh sesama mahasiswa. Sementara pengendara yang menabraknya tidak mengalami cedera serius, Arip harus menghadapi kondisi sebaliknya. Ia mengalami sejumlah cedera hingga tidak sadarkan diri atau koma selama kurang lebih 14 hari dan menjalani perawatan di rumah sakit selama sekitar 40 hari.

Pasca kecelakaan, kondisi kesehatan Arip berubah. Bagian kiri tubuhnya, mulai dari kepala hingga kaki, mengalami kelemahan. Banyak orang mengira kondisi tersebut disebabkan patah tulang. Namun, menurut Arip, gangguan yang dialaminya berkaitan dengan saraf sebagai dampak dari operasi pada bagian kiri kepalanya.

Di tengah kondisi yang tidak mudah diterima, satu hal yang pertama kali ia pikirkan setelah sadar adalah kuliahnya.

“Hal yang pertama saya tanyakan waktu itu adalah bagaimana kuliah saya,” kenangnya.

Bagi Arip, perubahan kondisi dari seseorang yang sebelumnya sehat menjadi penyandang disabilitas bukanlah sesuatu yang mudah. Ia harus beradaptasi dengan keterbatasan fisik sekaligus memikirkan bagaimana menyelesaikan pendidikan yang telah dimulainya.

Dengan dukungan keluarga dan orang-orang terdekat yang terus merawat serta memberikan semangat, Arip perlahan bangkit. Keluarganya juga membantu berkomunikasi dengan pihak kampus agar proses pendidikannya tetap dapat berjalan.

Respons positif kemudian datang dari lingkungan UIN STS Jambi. Mulai dari ketua program studi, sekretaris program studi, dekan, hingga pimpinan universitas memberikan perhatian dan toleransi terhadap kondisi yang dihadapinya.

Dukungan tersebut menjadi bagian penting bagi Arip untuk terus melangkah. Ia menyadari keterbatasan yang dimilikinya, tetapi tidak ingin menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk berhenti.

“Saya sadar dengan keadaan dan keterbatasan saya. Namun, saya tetap semangat dan ingin seperti yang lain, bisa menyelesaikan apa yang telah saya mulai,” ujarnya.

Menurut Arip, keramahan lingkungan kampus menjadi salah satu kekuatan yang membuatnya tetap bertahan. Kehadiran Pusat Gender, Anak dan Disabilitas (PGAD) UIN STS Jambi juga memberikan pendampingan dan bimbingan selama menjalani proses pendidikan.

Perjuangan panjang tersebut akhirnya memasuki tahap akhir. Pada 17 Juni 2026, Arip mengikuti sidang skripsi sebagai bagian dari proses penyelesaian studi. Setelah melewati rangkaian proses akademik, Arip kemudian mengikuti yudisium pada 13 Agustus 2026.

Dalam yudisium tersebut, Arip dinyatakan lulus dengan IPK 3,25 dan memperoleh predikat sangat memuaskan.

Bagi Arip, pencapaian tersebut bukan sekadar angka akademik. Yudisium menjadi penanda dari perjalanan panjang yang harus ia lalui sejak kecelakaan pada 2020 hingga akhirnya mampu menyelesaikan pendidikan yang telah dimulainya.

Ia pun menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan perhatian, kemudahan, pendampingan, dan dukungan selama dirinya menjalani proses pendidikan.

“Terima kasih banyak kepada seluruh pihak yang telah memudahkan urusan saya dalam menyelesaikan studi ini. Kami menyadari tidak mampu membalas semua kebaikan Bapak dan Ibu. Semoga Allah Yang Maha Kuasa yang membalas semua kebaikan Bapak dan Ibu,” tutur Arip.

Kisah Arip menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya tentang kemampuan akademik. Di baliknya ada perjuangan, ketekunan, dukungan keluarga, serta lingkungan yang mampu memberikan ruang yang setara bagi setiap mahasiswa untuk terus tumbuh dan menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.

Dari kecelakaan yang mengubah kehidupannya, Arip akhirnya tiba di titik yang selama ini diperjuangkannya: yudisium dengan predikat sangat memuaskan. Sebuah pencapaian yang menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan bagian dari perjalanan untuk mencapai cita-cita.