Jambinews.id | Minggu, 23 Agustus 2026, Auditorium Chatib Quzwain UIN Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi tidak sekadar dipenuhi para wisudawan dengan toga dan senyum kemenangan.
Di antara deretan kursi, bunga, kamera, dan ucapan selamat, tersimpan cerita yang jauh lebih panjang: tentang anak-anak yang pernah berangkat kuliah dengan mimpi sederhana, tentang orang tua yang diam-diam menabung harapan, tentang doa yang dipanjatkan bertahun-tahun, hingga akhirnya hari yang dinanti itu benar-benar tiba.
Hari itu, sebanyak 790 wisudawan mengikuti Sidang Senat Terbuka Wisuda Periode II Tahun 2026 sesi kedua.
Mereka adalah bagian dari 1.463 wisudawan yang menyelesaikan pendidikan pada rangkaian Wisuda Periode II UIN STS Jambi. Wisuda tersebut sekaligus menjadi Wisuda Sarjana ke-72, Magister ke-45, dan Doktor ke-21.
Namun, angka 1.463 tidak pernah benar-benar mampu menceritakan seluruh perjuangan mereka.
Sebab di balik setiap nama yang disebutkan, ada perjalanan yang berbeda.
Ada yang mungkin datang dari keluarga sederhana. Ada yang harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan. Ada yang pernah gagal, jatuh, lalu kembali berdiri. Dan ada pula yang sepanjang perjalanan akademiknya hanya memiliki satu kekuatan: doa keluarga.
Ketika Nama Dipanggil, Perjuangan Terbayar
Sesi kedua wisuda diikuti 790 lulusan.
Sebanyak 143 lulusan berasal dari Program Pascasarjana, 594 lulusan dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, serta 53 lulusan dari Fakultas Dakwah.
Ketika satu per satu nama dipanggil, suasana auditorium berubah.
Senyum mengembang.
Kamera diangkat.
Tangan melambai.
Sebagian keluarga mengabadikan momen yang mungkin hanya terjadi sekali dalam hidup.
Bagi sebagian orang, menerima ijazah mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi keluarga, momen itu adalah hasil dari perjalanan panjang yang tidak selalu mudah.
Ada orang tua yang selama bertahun-tahun hanya bisa bertanya melalui telepon, “Kapan selesai kuliah?”
Ada yang setiap bulan menghitung kembali pengeluaran agar anak tetap bisa membayar kebutuhan pendidikan.
Ada yang tidak pernah hadir di ruang sidang, ruang seminar, atau ruang kuliah, tetapi doanya selalu mengiringi.
Karena itulah, wisuda sesungguhnya bukan hanya perayaan seorang mahasiswa.
Wisuda adalah perayaan keluarga.
Pesan Rektor yang Menyentuh Ruang Paling Dalam
Di tengah suasana bahagia tersebut, Rektor UIN STS Jambi Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd. menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi menyentuh sisi paling manusiawi dari sebuah kelulusan.
Ia mengingatkan para wisudawan agar tidak pernah melupakan orang tua.
“Jangan lupakan doa untuk orang tua,” pesan Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd.
Bagi Rektor, keberhasilan akademik tidak berdiri sendiri.
Di belakang seorang sarjana, ada keluarga yang memberi dukungan. Di belakang seorang magister, ada doa yang tidak pernah berhenti. Bahkan di balik keberhasilan seorang doktor, ada orang tua dan keluarga yang mungkin telah melewati perjalanan panjang bersama sang anak.
Karena itu, para lulusan diminta tetap menghormati, menyayangi, dan berterima kasih kepada kedua orang tua.
Pesan itu bahkan ditujukan kepada mereka yang hari itu tidak lagi dapat melihat orang tuanya duduk di antara para tamu.
Bagi mereka yang orang tuanya telah meninggal dunia, Rektor mengingatkan agar doa tetap dikirimkan.
Sebab hubungan antara anak dan orang tua tidak berakhir ketika kematian datang.
Doa seorang anak menjadi bentuk bakti yang terus mengalir.
Pesan itu terasa begitu dekat dengan suasana wisuda. Sebab di tengah kebahagiaan mengenakan toga, mungkin ada satu kursi yang kosong.
Satu kursi yang seharusnya ditempati ayah.
Atau ibu.
Dan bagi sebagian wisudawan, kebahagiaan hari itu mungkin datang bersama kerinduan.
“Kami Mengembalikan Putra-Putri Bapak dan Ibu”
Ada satu kalimat lain yang disampaikan Rektor yang menggambarkan makna wisuda secara utuh.
“Kami mengembalikan putra-putri Bapak dan Ibu kepada keluarga dan masyarakat,” katanya.
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan seremonial.
Selama bertahun-tahun, kampus menjadi rumah kedua bagi para mahasiswa. Di sanalah mereka belajar, berdiskusi, melakukan penelitian, membangun pertemanan, berorganisasi, menghadapi ujian, dan menemukan arah kehidupan.
Kini mereka harus kembali.
Bukan lagi sebagai mahasiswa.
Melainkan sebagai sarjana, magister, dan doktor yang membawa tanggung jawab baru.
Mereka membawa ilmu.
Mereka membawa pengalaman.
Dan yang tidak kalah penting, mereka membawa nama keluarga serta almamater.
Empat Wisudawan dengan Cerita Keunggulan
Di tengah ratusan lulusan, empat nama mendapat penghargaan sebagai mahasiswa terbaik.
Izzati Putri Zahra, S.Pd. menjadi mahasiswa terbaik Fakultas Tarbiyah dan Keguruan dengan IPK 3,98 dan predikat Magna Cumlaude.
Kemudian Tarik Andika, S.Sos. menjadi mahasiswa terbaik Fakultas Dakwah dengan IPK 3,97 dan predikat Magna Cumlaude.
Pada jenjang Magister, penghargaan diberikan kepada Rona Afriliani, M.E. yang meraih IPK 3,85 dengan predikat Magna Cumlaude.
Sementara itu, mahasiswa terbaik jenjang Doktor diraih Dr. Muhammad Munawir Pohan dengan IPK 3,90 dan predikat Cumlaude.
Prestasi mereka menjadi kebanggaan tersendiri.
Namun, penghargaan tersebut juga mengingatkan bahwa di balik angka IPK terdapat proses panjang: membaca ketika orang lain beristirahat, menyelesaikan tugas ketika sebagian orang menikmati waktu luang, melakukan penelitian, menghadapi revisi, dan berkali-kali belajar untuk tidak menyerah.
Kampus yang Tidak Berhenti Bertumbuh
Di balik keberhasilan para lulusan, UIN STS Jambi juga terus melakukan pembenahan.
Kasful Anwar menyampaikan bahwa universitas terus memperkuat kelembagaan dan ekosistem akademiknya.
UIN STS Jambi telah meraih akreditasi perguruan tinggi dengan predikat Unggul dan kini memiliki 30 guru besar.
Universitas juga memperkuat tradisi publikasi ilmiah. Dua jurnal UIN STS Jambi, kata Rektor, segera diarahkan untuk terindeks Scopus.
Pengembangan program studi juga terus dilakukan. Saat ini terdapat 55 program studi, dengan tiga program studi baru pada jenjang sarjana dan dua program studi baru pada jenjang magister.
Semua itu pada akhirnya bermuara pada satu tujuan: menghadirkan pendidikan yang semakin berkualitas dan menghasilkan sumber daya manusia yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Dari Kampus Menuju Dunia yang Sesungguhnya
Wakil Gubernur Jambi Abdullah Sani, M.Pd.I., yang hadir mewakili Gubernur Jambi, turut menyampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan.
Atas nama Pemerintah Provinsi Jambi, ia mengapresiasi keberhasilan 790 lulusan yang mengikuti prosesi sesi kedua.
Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan buah ketekunan, kerja keras, serta dukungan dan doa keluarga.
Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh sivitas akademika UIN STS Jambi yang dinilai terus konsisten mencetak sumber daya manusia unggul dan berkualitas.
Kini, setelah prosesi selesai, para wisudawan akan kembali ke rumah masing-masing.
Toga akan disimpan.
Bunga akan layu.
Foto-foto wisuda akan menjadi kenangan.
Tetapi perjuangan baru saja dimulai.
Sebab Wisuda Bukan Akhir
Sebanyak 1.463 lulusan UIN STS Jambi kini memasuki babak kehidupan yang berbeda.
Ada yang akan melanjutkan pendidikan.
Ada yang memasuki dunia kerja.
Ada yang membangun usaha.
Ada yang kembali ke daerah untuk mengabdi.
Dan mungkin ada yang belum mengetahui secara pasti ke mana langkah berikutnya akan membawa mereka.
Namun satu hal yang pasti: mereka tidak lagi sama seperti ketika pertama kali memasuki gerbang kampus.
Mereka telah membawa pulang ilmu, pengalaman, persahabatan, nilai, dan pelajaran tentang kehidupan.
Dan di atas semua itu, mereka membawa pesan yang mungkin paling sederhana tetapi paling penting dari hari wisuda tersebut:
Jangan pernah melupakan orang tua.
Sebab ketika dunia mulai mengenal mereka melalui gelar di belakang nama, keluarga adalah tempat pertama yang mengenal mereka bahkan sebelum gelar itu ada.
Hari itu, UIN STS Jambi tidak hanya mewisuda mahasiswa.
Kampus sedang melepas anak-anaknya untuk kembali kepada keluarga dan masyarakat.
Melepas mereka dengan doa.
Melepas mereka dengan harapan.
Dan melepas mereka dengan satu amanah besar: jadilah manusia yang ilmunya memberi manfaat.


