Jambinews.id | Jombang - Jumat pagi, 28 Agustus 2026, suasana intelektual dan kebangsaan terasa kuat dalam gelaran Halaqoh Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama yang mempertemukan para akademisi, pimpinan perguruan tinggi, tokoh pemerintahan, serta jejaring Nahdlatul Ulama dari berbagai penjuru.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, M.A., Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), serta Rektor Universitas Indonesia Prof. Dr. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU beserta jajaran dekan.
Halaqoh juga diikuti para pimpinan perguruan tinggi yang memiliki keterafiliasian dengan pesantren di Jawa Timur. Kehadiran Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) dari berbagai Negara semakin memperluas perspektif forum, menjadikan pertemuan tersebut bukan sekadar agenda akademik, tetapi juga ruang pertukaran gagasan mengenai masa depan pendidikan tinggi NU dalam konteks nasional dan global.
Sebagai tuan rumah, Pondok Pesantren (PP) Muhajirin Bahrul Tambakberas menjadi ruang bertemunya berbagai gagasan tentang pendidikan, pesantren, keislaman, dan kebangsaan. Tradisi pesantren yang kuat berpadu dengan perspektif perguruan tinggi dalam membaca perubahan sosial yang semakin kompleks.
Perguruan Tinggi Tidak Boleh Terisolasi dari Dinamika Kebangsaan
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, M.A. menekankan pentingnya posisi perguruan tinggi dalam dinamika kehidupan kebangsaan. Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi ruang produksi pengetahuan, tetapi juga harus hadir dan mengambil bagian dalam menjawab berbagai persoalan bangsa.
Ia menilai, perguruan tinggi di Indonesia bersama pondok pesantren selama ini telah memberikan kontribusi penting dalam membangun karakter keislaman yang wasathiyah, moderat, dan mampu hidup berdampingan dalam masyarakat yang majemuk.
Tradisi tersebut, kata dia, merupakan salah satu kekuatan penting Indonesia. Pendidikan Islam tidak hanya diarahkan untuk membentuk manusia yang memiliki kapasitas keilmuan, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan, toleransi, serta kemampuan berkontribusi bagi kehidupan publik.
Karena itu, perguruan tinggi dituntut untuk terus engage, terbuka, dan terlibat dalam dinamika kebangsaan. Kampus tidak boleh berjalan sendiri dalam ruang akademiknya tanpa membangun koneksi dengan realitas sosial, kebangsaan, dan perkembangan masyarakat.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat. Perguruan tinggi menghadapi tantangan transformasi digital, perubahan dunia kerja, perkembangan kecerdasan buatan, hingga dinamika sosial-politik yang menuntut institusi pendidikan memiliki kepekaan sekaligus kemampuan adaptasi.
Dari Provinsi Jambi, sebanyak tujuh peserta dari Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Provinsi Jambi hadir mengikuti seluruh rangkaian halaqoh dengan seksama.
Kehadiran delegasi PW ISNU Jambi menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring intelektual dan kelembagaan ISNU, sekaligus menyerap gagasan-gagasan strategis yang berkembang di lingkungan pendidikan tinggi Nahdlatul Ulama.
Forum tersebut memberikan Persfektif bagi para peserta untuk melihat pendidikan tinggi tidak semata dari perspektif kelembagaan, melainkan sebagai bagian dari ekosistem besar yang menghubungkan kampus, pesantren, masyarakat, pemerintah, dan jejaring NU global.
Halaqoh berlangsung dua hari. Namun, gagasan yang muncul dalam forum tersebut meninggalkan pesan yang lebih panjang: bahwa masa depan pendidikan tinggi NU tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik dan tata kelola institusi, tetapi juga oleh keberanian perguruan tinggi untuk hadir di tengah persoalan masyarakat dan mengambil bagian dalam perjalanan kebangsaan.
Dari Tambakberas, pesan itu kembali ditegaskankampus dan pesantren harus terus menjadi ruang lahirnya ilmu, karakter, moderasi beragama, sekaligus energi intelektual bagi kemajuan Indonesia.

