Karhutla Mengancam Muaro Jambi, Delapan Kecamatan Masuk Wilayah Rentan



Jambinews.id | Muaro Jambi - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi kembali menjadi perhatian serius pemerintah pusat dan daerah. Kondisi cuaca yang semakin kering dan meningkatnya potensi titik api mendorong penguatan koordinasi lintas sektor untuk memastikan setiap indikasi kebakaran dapat ditangani secara cepat sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih luas.

Persoalan tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam rapat kunjungan kerja Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni, S.E., M.E., di Markas Manggala Agni Daops Sumatera IX/Kota Jambi, Jalan Lingkar Barat I No. 338, Kelurahan Kenali Asam Bawah, Kecamatan Kota Baru, Kota Jambi, Selasa (25/8/2026).

Rapat tersebut turut dihadiri Bupati Muaro Jambi Dr. Bambang Bayu Suseno, S.P., M.M., M.Si. Dalam pertemuan itu, pemerintah daerah menyampaikan kondisi terkini wilayah Muaro Jambi yang memiliki tingkat kerawanan karhutla cukup tinggi.

Delapan Kecamatan Rentan Karhutla

Bupati Muaro Jambi menjelaskan, dari 11 kecamatan yang berada di Kabupaten Muaro Jambi, sebanyak delapan kecamatan masuk dalam wilayah yang tergolong rentan terhadap karhutla.

Kerawanan tersebut mencakup sekitar 42 hektare lahan mineral dan 255 hektare lahan gambut. Karakteristik lahan gambut menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan kebakaran karena api dapat menjalar hingga ke bawah permukaan tanah sehingga membutuhkan respons cepat dan penanganan berkelanjutan.

Kondisi itu membuat pemerintah daerah tidak cukup hanya mengandalkan upaya pemadaman ketika kebakaran telah terjadi. Sistem deteksi dini, kesiapsiagaan personel, koordinasi lintas sektor dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.

Bambang menegaskan, kecepatan respons menjadi salah satu faktor utama untuk mencegah titik api berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

“Dengan bantuan dan dukungan semua pihak, kita terus melakukan percepatan ketika mendapatkan informasi mengenai kebakaran. Kecepatan dalam merespons sangat penting agar api tidak meluas,” ujar Bambang.

Menurutnya, setiap informasi mengenai titik kebakaran harus segera ditindaklanjuti melalui koordinasi seluruh unsur terkait. Pemerintah daerah melibatkan petugas di lapangan, masyarakat serta berbagai pihak lintas sektor agar penanganan dapat dilakukan secara terpadu.

ISPU Mencapai 200, Asap Mulai Berdampak

Karhutla tidak hanya menimbulkan ancaman terhadap lingkungan dan lahan. Dampak yang lebih luas juga dirasakan masyarakat melalui menurunnya kualitas udara akibat paparan asap.

Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi mencatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada di kisaran angka 200. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena penurunan kualitas udara berpotensi mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah daerah telah mengeluarkan edaran mengenai peliburan sementara kegiatan pembelajaran bagi peserta didik jenjang PAUD, TK hingga SMP.

Kebijakan tersebut disesuaikan dengan perkembangan kualitas udara dan kondisi karhutla di wilayah Muaro Jambi. Keselamatan dan kesehatan peserta didik menjadi pertimbangan utama ketika kualitas udara memburuk akibat paparan asap.

Selain itu, pemerintah daerah juga melakukan langkah perlindungan melalui distribusi alat pelindung pernapasan. Sekitar 35.000 masker telah didistribusikan kepada masyarakat, sekolah, rumah sakit dan puskesmas.

Distribusi masker tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko paparan asap, sementara penanganan sumber kebakaran terus dilakukan oleh petugas di lapangan.

Dukungan Water Bombing Diperkuat

Kondisi karhutla yang berlangsung di tengah cuaca kering menunjukkan bahwa pengendalian tidak dapat hanya mengandalkan pemadaman setelah api membesar.

Kecepatan menerima informasi, memastikan lokasi titik api, mengerahkan personel dan menentukan strategi pemadaman menjadi mata rantai penting dalam pengendalian karhutla.

Karena itu, koordinasi antara pemerintah daerah, Manggala Agni, aparat keamanan, masyarakat dan unsur terkait lainnya menjadi bagian penting dalam strategi penanggulangan.

Dalam kunjungan kerja tersebut, pemerintah pusat juga merespons kondisi karhutla di Jambi dengan menyiapkan dukungan tambahan berupa satu unit pesawat water bombing untuk memperkuat operasi pemadaman dari udara.

Dukungan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan penanganan, terutama terhadap kebakaran yang terjadi di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Bagi Muaro Jambi, dukungan pemerintah pusat menjadi penting mengingat luas wilayah dan karakteristik lahan yang dimiliki. Namun, pengendalian karhutla tetap membutuhkan keterlibatan masyarakat sebagai salah satu garda terdepan dalam mencegah munculnya titik api.

Dari Pemadaman Menuju Pencegahan

Karhutla pada dasarnya bukan sekadar persoalan memadamkan api. Dampaknya menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari lingkungan, kesehatan masyarakat, pendidikan, aktivitas ekonomi hingga keselamatan warga.

Dengan delapan dari 11 kecamatan berada dalam kategori rentan, strategi pencegahan menjadi semakin penting. Keberadaan lahan gambut juga membuat risiko kebakaran memiliki karakteristik berbeda dibandingkan lahan mineral sehingga membutuhkan pola penanganan yang lebih spesifik.

Sementara itu, kondisi ISPU yang mencapai sekitar 200 menunjukkan bahwa dampak karhutla telah bergerak dari persoalan lingkungan menjadi persoalan kesehatan dan kehidupan sosial masyarakat.

Karena itu, penguatan deteksi dini, edukasi masyarakat, kesiapan personel, dukungan peralatan, pemadaman cepat dan perlindungan masyarakat harus dilakukan secara bersamaan.

Bupati Muaro Jambi menegaskan pemerintah daerah akan terus mempercepat penanganan setiap informasi mengenai kebakaran dengan mengoptimalkan koordinasi seluruh unsur.

Upaya tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah untuk memastikan karhutla tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas sekaligus melindungi masyarakat Muaro Jambi dari dampak asap yang ditimbulkan.

Di tengah musim kering dan tingginya kerawanan lahan, kecepatan bertindak menjadi kunci. Setiap titik api yang berhasil dikendalikan sejak dini bukan hanya menyelamatkan lahan, tetapi juga menjaga kualitas udara, kesehatan masyarakat dan keberlangsungan aktivitas warga.