Oleh: Dr. Pahmi Sy., S.Ag., M.Si.
Wakil Rektor II UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Jambinews.id | Pendidikan - Pertemuan Forum Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di UIN Syekh Wasil Kediri, Jawa Timur, 26 Agustus 2026, kembali menegaskan satu agenda penting bagi masa depan pendidikan tinggi Islam di Indonesia: ma’hadisasi.
Di hadapan para rektor dan wakil rektor PTKIN se-Indonesia, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Amin Suyitno, M.Ag., menekankan pentingnya ma’hadisasi sebagai distingsi PTKIN dalam membentuk generasi unggul, bereputasi, berakhlak, berilmu, sekaligus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Pesan tersebut sesungguhnya bukan sekadar tentang pengelolaan asrama mahasiswa. Lebih jauh, ma’hadisasi harus dipahami sebagai ruh pendidikan PTKIN—sebuah ikhtiar untuk memastikan bahwa kemajuan akademik berjalan beriringan dengan pembentukan karakter, spiritualitas, integritas, dan kepedulian sosial.
Hal ini menjadi semakin relevan ketika PTKIN saat ini menunjukkan perkembangan akademik dan kelembagaan yang semakin kuat.
Dalam forum tersebut, Prof. Dr. H. Phil Sahiron, M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa dari 59 PTKIN, sebanyak 39 telah meraih akreditasi unggul, 17 berpredikat baik sekali, dan tiga berpredikat baik. Sementara dari 2.137 program studi, sebanyak 992 berstatus unggul, 620 bernilai baik sekali, dan 300 bernilai baik, di samping sejumlah program studi lainnya yang memiliki status akreditasi berbeda.
Data tersebut memperlihatkan bahwa PTKIN tidak lagi berada pada posisi sebagai perguruan tinggi yang hanya mengandalkan identitas keagamaan. PTKIN telah berkembang menjadi institusi pendidikan tinggi yang mampu bersaing dalam mutu akademik dan tata kelola.
Namun, peningkatan kualitas tersebut perlu dilengkapi dengan satu kekuatan yang menjadi pembeda utama: karakter keislaman yang hidup dalam keseharian mahasiswa.
Di sinilah ma’hadisasi memperoleh maknanya.
Ma’hadisasi Bukan Sekadar Asrama
Ma’had Al-Jami’ah tidak semestinya dipandang hanya sebagai tempat mahasiswa tinggal. Jika dikelola secara serius, ma’had dapat menjadi laboratorium kehidupan tempat mahasiswa belajar menjadi manusia yang utuh.
Tradisi pesantren dapat dipertemukan dengan tradisi akademik modern. Al-Qur’an, ibadah, akhlak, bahasa Arab, bahasa Inggris, moderasi beragama, kepemimpinan, literasi, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dapat dirangkai menjadi ekosistem pendidikan yang saling menguatkan.
Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menjawab soal di ruang kelas, tetapi juga dituntut mampu menjawab persoalan kehidupan.
Tidak cukup hanya cerdas secara intelektual. Mereka juga harus memiliki kematangan spiritual dan emosional, kemampuan berkomunikasi, kedisiplinan, kepemimpinan, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Karena itu, ma’hadisasi harus ditempatkan sebagai proses pembentukan budaya, bukan sekadar program tambahan.
Ketika mahasiswa bangun untuk menunaikan ibadah, membaca dan menghafal Al-Qur’an, berinteraksi menggunakan bahasa asing, berdiskusi, menulis, melakukan penelitian, hingga terlibat dalam aktivitas sosial, sesungguhnya mereka sedang ditempa untuk memiliki keseimbangan antara iman, ilmu, dan amal.
Distingsi UIN STS Jambi
Bagi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, penguatan ma’hadisasi memiliki posisi strategis dalam membangun identitas kampus Islam yang unggul dan bereputasi.
Kampus tidak hanya ingin melahirkan sarjana yang memiliki ijazah dan kompetensi profesional. Lebih dari itu, UIN STS Jambi harus mampu melahirkan lulusan yang memiliki karakter kuat, integritas, kemampuan adaptasi, serta kesadaran bahwa ilmu yang diperoleh harus memberi manfaat.
Distingsi tersebut dapat dibangun melalui sejumlah agenda utama.
Pertama, penguatan karakter Islami dan akhlakul karimah sebagai fondasi kehidupan mahasiswa.
Kedua, penguatan kemampuan membaca, memahami, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an sebagai bagian penting dari identitas mahasiswa PTKIN.
Ketiga, penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Arab dan bahasa Inggris, sebagai pintu menuju kompetisi akademik dan profesional di tingkat global.
Keempat, penguatan moderasi beragama dan nilai kebangsaan, sehingga mahasiswa memiliki keberagamaan yang inklusif, toleran, sekaligus memiliki komitmen kebangsaan.
Kelima, pembentukan budaya riset dan literasi ilmiah, agar mahasiswa terbiasa berpikir kritis, menulis, meneliti, dan menghasilkan gagasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Keenam, penguatan kepemimpinan dan pengabdian sosial, sehingga mahasiswa memiliki pengalaman menghadapi persoalan nyata di tengah masyarakat.
Dengan demikian, ma’hadisasi tidak boleh berhenti pada kegiatan internal kampus. Orientasinya harus keluar: menghasilkan manusia yang mampu membawa nilai-nilai akademik dan keislaman ke tengah masyarakat.
Dari Kampus untuk Dunia Nyata
Perguruan tinggi hari ini tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang siap mencari pekerjaan. Perguruan tinggi harus melahirkan generasi yang mampu menciptakan peluang, menawarkan solusi, dan membangun perubahan.
Karena itu, pengembangan ma’hadisasi perlu terhubung dengan dunia usaha, dunia industri, lembaga pemerintahan, komunitas, dan berbagai institusi profesional.
Mahasiswa perlu memperoleh ruang untuk magang, berkolaborasi, melakukan riset terapan, mengembangkan inovasi, dan menyelesaikan persoalan nyata.
Pengalaman semacam itu akan membuat pembelajaran di kampus tidak berhenti pada teori.
Mahasiswa belajar bahwa ilmu bukan sekadar untuk memperoleh nilai, tetapi untuk digunakan.
Di sisi lain, bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang magister maupun doktoral, ma’hadisasi dapat menjadi ruang strategis untuk memperkuat kemampuan bahasa, metodologi penelitian, literasi akademik, dan penulisan ilmiah.
Jika proses tersebut dilakukan secara konsisten, mahasiswa UIN STS Jambi akan memiliki modal yang lebih kuat untuk melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri.
Mereka ditempa sejak berada di kampus untuk berani memiliki cita-cita besar.
Unggul, Bereputasi, dan Berdampak
Kata unggul tidak boleh hanya dimaknai sebagai pencapaian akreditasi. Keunggulan harus terlihat dari kualitas lulusan.
Kata bereputasi juga tidak cukup diukur dari peringkat institusi. Reputasi sejatinya tumbuh dari karya, prestasi, integritas, dan kontribusi nyata sivitas akademika.
Begitu pula dengan kata berdampak. Ilmu yang hanya berhenti di ruang kelas belum sepenuhnya memberikan manfaat. Ilmu harus hadir di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan umat dan bangsa.
Karena itu, cita-cita melahirkan generasi unggul, bereputasi, dan berdampak harus menjadi orientasi bersama.
Ma’hadisasi dapat menjadi salah satu instrumen penting untuk mewujudkannya.
Namun, keberhasilan ma’hadisasi tidak hanya bergantung pada bangunan asrama, jumlah penghuni, atau banyaknya program kegiatan. Yang jauh lebih penting adalah kualitas pembinaan, keteladanan para pembina, sistem yang konsisten, lingkungan akademik yang sehat, serta keberanian melakukan evaluasi dan inovasi.
Menjadikan Ma’had sebagai Jantung Pembentukan Karakter
Pada akhirnya, masa depan PTKIN tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak program studi yang memperoleh akreditasi unggul, seberapa tinggi peringkat universitas, atau seberapa banyak publikasi yang dihasilkan.
Semua itu penting.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar: manusia seperti apa yang kita lahirkan dari kampus ini?
Jika jawabannya adalah manusia yang berilmu tetapi berakhlak, cerdas tetapi rendah hati, kompetitif tetapi tetap peduli, menguasai teknologi tetapi memiliki spiritualitas, serta mampu berprestasi sekaligus memberi manfaat, maka di situlah sesungguhnya keberhasilan PTKIN menemukan maknanya.
Ma’hadisasi karena itu bukan sekadar agenda kelembagaan. Ia merupakan investasi peradaban.
Bagi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, penguatan Ma’had Al-Jami’ah merupakan bagian dari ikhtiar membangun kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara karakter dan identitas keislaman.
Kita ingin mahasiswa datang ke kampus untuk menuntut ilmu, tetapi pulang membawa lebih dari sekadar gelar.
Mereka pulang dengan akhlak, wawasan, keterampilan, keberanian, kepedulian, dan semangat untuk memberi manfaat.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan tinggi bukan hanya tentang berapa banyak lulusan yang dihasilkan, tetapi juga seberapa besar kebaikan yang mampu mereka hadirkan setelah meninggalkan kampus.
Inilah ruh ma’hadisasi.
Inilah identitas PTKIN.
Dan inilah jalan yang perlu terus diperkuat UIN STS Jambi untuk mewujudkan generasi unggul, berakhlak, berilmu, bereputasi, dan berdampak bagi masyarakat, bangsa, dan peradaban.
.jpeg)