Tongkat dan Tasbih: Spirit Perjuangan NU Menyongsong Muktamar ke-35

 


Oleh: Dr. Pahmi Sy., S.Ag., M.Si.
Wakil Rektor II UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Perspektif Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35

Jambinews.id | Nasional - Tongkat dan tasbih pada hakikatnya hanyalah benda mati. Tongkat dapat berupa bambu, rotan, atau kayu yang digunakan untuk menopang langkah, sementara tasbih tersusun dari butiran manik-manik yang membantu seseorang menghitung zikir. Nilai keduanya lahir bukan semata dari bentuk fisiknya, melainkan dari makna, fungsi, dan pesan yang dilekatkan manusia kepadanya.

Namun dalam perjalanan sejarah Nahdlatul Ulama (NU), tongkat dan tasbih memperoleh makna yang jauh lebih dalam. Keduanya tidak sekadar menjadi benda simbolik, tetapi dikenang sebagai bagian dari rangkaian isyarat spiritual yang mengiringi lahirnya sebuah jam’iyah yang kemudian menjadi salah satu kekuatan penting dalam perjalanan Islam dan kebangsaan Indonesia.

NU lahir pada 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 H. Kelahiran tersebut bukanlah sebuah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba. Ia merupakan buah dari proses panjang berupa pertemuan ulama, perenungan keagamaan, istikharah, dan pencarian jalan perjuangan untuk mempertahankan serta mengembangkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah di tengah perubahan zaman.

Salah satu kisah yang sangat dikenal dalam tradisi NU adalah peran KH. Kholil Bangkalan dalam memberikan isyarat kepada KH. Hasyim Asy’ari melalui KH. As’ad Syamsul Arifin. Kisah tersebut bermula dari pertemuan para ulama Nusantara di Bangkalan, Madura, yang antara lain membahas perkembangan gerakan Wahabi dan masa depan perjuangan Islam di Nusantara.

Dalam rangkaian peristiwa tersebut, KH. Kholil Bangkalan disebut memberikan pesan melalui pembacaan Al-Qur’an, termasuk Surah Ash-Shaff ayat 8–9. Pesan itu dipahami sebagai isyarat agar perjuangan Islam Ahlussunnah wal Jamaah terus dikembangkan dengan berpegang teguh pada cahaya Allah dan nilai-nilai kebenaran.

Beberapa tahun kemudian, ketika gagasan mendirikan sebuah jam’iyah semakin menguat, KH. Hasyim Asy’ari diminta melakukan istikharah. Namun petunjuk yang dinanti belum juga memberikan keteguhan hati.

Pada awal 1924, KH. Kholil kemudian memanggil KH. As’ad Syamsul Arifin dan memintanya mengantarkan sebuah tongkat kepada KH. Hasyim Asy’ari di Tebuireng. Bersama tongkat tersebut disampaikan pesan untuk membacakan Surah Thaha ayat 17–23. Ayat tersebut berbicara mengenai tongkat Nabi Musa AS dan bagaimana Allah menjadikan tongkat itu sebagai bagian dari mukjizat dalam menghadapi kekuasaan yang zalim.

Tongkat itu bukan sekadar sepotong kayu. Dalam konteks spiritual perjuangan para ulama, tongkat menjadi simbol keteguhan, keberanian, daya juang, dan kemampuan menghadapi tantangan zaman. Ia adalah gambaran bahwa perjuangan tidak boleh kehilangan pegangan.

Ketika isyarat tersebut belum sepenuhnya menguatkan hati KH. Hasyim Asy’ari, KH. As’ad kembali mendapat tugas. Kali ini ia membawa tasbih dengan pesan zikir Ya Jabbar, Ya Qahhar. Tasbih kemudian hadir sebagai simbol dimensi batin dari perjuangan: zikir, ketundukan kepada Allah, kekuatan spiritual, dan kesadaran bahwa sebesar apa pun perjuangan manusia, sumber kekuatan sejatinya tetap berasal dari Allah SWT.

Tongkat dan tasbih akhirnya dapat dibaca sebagai dua sisi yang tidak terpisahkan dalam tradisi perjuangan NU: tongkat sebagai simbol ikhtiar dan keteguhan langkah, sedangkan tasbih sebagai simbol zikir, keikhlasan, dan ketergantungan kepada Allah SWT.

Dari sinilah kita dapat memahami bahwa berdirinya NU tidak semata-mata merupakan proyek organisatoris. Ia merupakan ikhtiar keulamaan yang menyatukan ilmu, spiritualitas, tradisi pesantren, dakwah, dan tanggung jawab kebangsaan.

Tongkat: Keteguhan Menghadapi Zaman

Jika tongkat dipahami sebagai alat untuk menopang langkah, maka bagi NU ia dapat dimaknai sebagai simbol kemampuan organisasi untuk menjaga umat agar tidak kehilangan arah.

Sejarah NU menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi sejak kelahirannya tidak ringan. Ada tantangan perubahan pemikiran keagamaan, kolonialisme, keterbelakangan pendidikan, kemiskinan, serta persoalan sosial yang menimpa masyarakat.

NU merespons tantangan tersebut melalui pendidikan, dakwah, penguatan pesantren, pemberdayaan masyarakat, dan perjuangan kebangsaan. Para ulama tidak hanya berbicara tentang agama di ruang-ruang pengajian, tetapi hadir di tengah persoalan konkret masyarakat.

Karena itu, tongkat dalam perspektif NU hari ini dapat dimaknai sebagai keteguhan prinsip sekaligus kemampuan berjalan mengikuti perubahan zaman.

Tongkat tidak membuat seseorang berhenti berjalan. Sebaliknya, tongkat membantu manusia terus melangkah.

Demikian pula NU. Memegang tradisi bukan berarti menolak perubahan. Justru tradisi menjadi pijakan untuk bergerak menghadapi masa depan.

Inilah salah satu pesan penting yang relevan untuk dibawa dalam perspektif Muktamar NU ke-35: NU harus tetap kokoh dalam prinsip, tetapi lincah dalam menghadapi perubahan.

Muktamar tidak semestinya hanya dipahami sebagai forum pergantian kepemimpinan atau konsolidasi struktural. Muktamar harus menjadi ruang muhasabah untuk menjawab pertanyaan yang lebih fundamental: apakah NU masih memiliki keteguhan tongkat perjuangannya di tengah perubahan sosial, teknologi, ekonomi, politik, dan kebudayaan yang semakin cepat?

Tasbih: Jangan Sampai NU Kehilangan Ruh

Jika tongkat menggambarkan kekuatan untuk melangkah, tasbih mengingatkan bahwa langkah tersebut harus memiliki arah spiritual.

Tasbih adalah simbol zikir. Ia mengingatkan manusia agar tidak terjebak pada kekuatan material, popularitas, jabatan, dan kepentingan sesaat.

Dalam konteks organisasi sebesar NU, pesan ini menjadi sangat penting. Semakin besar organisasi, semakin besar pula tantangan menjaga keikhlasan pengabdian.

NU memiliki struktur, lembaga, badan otonom, pesantren, perguruan tinggi, sekolah, rumah sakit, lembaga sosial, dan berbagai jaringan pengabdian masyarakat. Semua itu merupakan kekuatan luar biasa. Tetapi kekuatan struktural akan kehilangan makna apabila tidak dibarengi dengan kekuatan spiritual.

Karena itu, tasbih dapat menjadi pengingat bahwa organisasi sebesar apa pun harus tetap memiliki ruh.

Ruh NU adalah keulamaan, pesantren, Ahlussunnah wal Jamaah, akhlak, tawadhu, khidmah, keikhlasan, serta komitmen terhadap kemaslahatan umat dan bangsa.

Ketika jabatan lebih dominan daripada khidmah, ketika perebutan posisi lebih kuat daripada semangat pengabdian, dan ketika kepentingan kelompok mengalahkan kepentingan umat, maka sesungguhnya kita sedang menjauh dari pesan tasbih.

Muktamar ke-35 dan Agenda Mengembalikan Ruh Perjuangan

Dalam perspektif Muktamar NU ke-35, tongkat dan tasbih layak dibaca kembali bukan hanya sebagai kisah sejarah, tetapi sebagai metafora untuk masa depan organisasi.

Tongkat mengajarkan NU untuk tetap teguh. Tasbih mengajarkan NU untuk tetap rendah hati. Tongkat mendorong NU bergerak. Tasbih mengingatkan NU agar tidak kehilangan arah. Tongkat berbicara tentang ikhtiar. Tasbih berbicara tentang keikhlasan.

Keduanya harus berjalan bersama.

NU hari ini menghadapi tantangan yang berbeda dengan 1926. Jika dahulu tantangannya adalah kolonialisme, keterbelakangan pendidikan, kemiskinan, dan dinamika pemikiran keagamaan, maka hari ini tantangannya jauh lebih kompleks.

Ada disrupsi teknologi informasi, kecerdasan buatan, perubahan pola komunikasi generasi muda, krisis lingkungan, ketimpangan ekonomi, polarisasi sosial, ekstremisme, krisis keteladanan, hingga ancaman lunturnya karakter dan moral.

Di tengah situasi tersebut, NU membutuhkan generasi yang mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan spiritualitas; mampu berpikir modern tanpa tercerabut dari akar tradisi; mampu bersaing secara global tanpa kehilangan kepedulian sosial; serta mampu berpolitik sebagai warga negara tanpa menjadikan organisasi sebagai kendaraan kepentingan politik praktis.

Inilah relevansi besar tongkat dan tasbih bagi NU masa kini.

Tongkat adalah keberanian untuk bergerak maju. Tasbih adalah kemampuan untuk tetap mengingat kepada siapa seluruh perjuangan dipersembahkan.

Dari Pesantren untuk Umat dan Bangsa

Sejarah NU tidak dapat dilepaskan dari pesantren. Dari pesantren lahir ulama, pendidik, pemimpin masyarakat, dan pejuang bangsa.

Pesantren mengajarkan bahwa ilmu tidak berhenti pada pengetahuan. Ilmu harus melahirkan akhlak. Akhlak harus melahirkan pengabdian. Dan pengabdian harus menghadirkan kemaslahatan.

Karena itu, masa depan NU sangat ditentukan oleh kemampuannya memperkuat kembali ekosistem pesantren sekaligus membuka ruang seluas-luasnya bagi generasi muda.

NU membutuhkan generasi yang tidak hanya mampu membaca kitab kuning, tetapi juga mampu membaca algoritma. Generasi yang memahami fikih sekaligus memahami teknologi. Generasi yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus kecakapan profesional.

Di sinilah gagasan Islam rahmatan lil ‘alamin, ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah harus terus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata.

NU harus menjadi kekuatan yang menjaga keseimbangan antara agama dan kebangsaan, antara tradisi dan modernitas, antara spiritualitas dan profesionalitas, serta antara kepentingan umat dan kepentingan kemanusiaan.

Menjaga Tongkat, Merawat Tasbih

Muktamar NU ke-35 seharusnya tidak hanya menghasilkan keputusan organisatoris, tetapi juga menghadirkan kesadaran baru tentang arah perjalanan jam’iyah.

Yang dibutuhkan NU bukan sekadar pergantian generasi, melainkan regenerasi spirit perjuangan.

Tongkat harus tetap dipegang agar NU tidak kehilangan keberanian untuk berjalan. Tasbih harus tetap digenggam agar perjalanan itu tidak kehilangan Allah sebagai orientasi utama.

Sebab NU tidak didirikan untuk kepentingan sesaat. Ia lahir dari kegelisahan para ulama terhadap masa depan umat dan bangsa. Ia tumbuh dari pesantren, berkembang melalui pengabdian, dan memperoleh tempat di hati masyarakat karena konsistensinya mendampingi umat.

Maka, ketika NU memasuki babak sejarah berikutnya, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa besar struktur organisasi, seberapa banyak kader, atau seberapa luas jaringan yang dimiliki.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: masihkah tongkat perjuangan berada di tangan kita? Masihkah tasbih ruhani berada dalam genggaman kita?

Jika tongkat masih kita pegang, NU akan terus memiliki kekuatan untuk melangkah.

Jika tasbih masih kita genggam, NU akan selalu memiliki alasan untuk merendahkan hati di hadapan Allah SWT.

Dan apabila keduanya berjalan bersama, NU tidak hanya akan mampu mempertahankan warisan sejarahnya, tetapi juga mampu menjawab tantangan masa depan.

Muktamar ke-35 semestinya menjadi momentum untuk meneguhkan kembali bahwa NU adalah jam’iyah ulama yang bekerja dengan ilmu, bergerak dengan tradisi, berjuang dengan keikhlasan, dan mengabdi untuk kemaslahatan umat serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tongkat untuk melangkah.

Tasbih untuk mengingat.

Ilmu untuk menerangi.

Akhlak untuk menjaga.

Dan khidmah untuk mengabdi.

Itulah ruh perjuangan NU yang harus diwariskan kepada generasi hari ini dan generasi NU masa depan.


Catatan : bahwa Tulisan ini dielaborasi dari Tulisan sebelumnya tahun 2022 yang berjudul “Tongkat dan Tasbih; Kado NU Sepanjang Zaman” yang terbit di berbagai media lokal Jambi.