Menapak Jejak Perubahan SAD di Jambi, dari Pelepat hingga Mentawak

Jambinews.id | Muaro Bungo - Di tengah hamparan kehidupan masyarakat Suku Anak Dalam (SAD), perubahan tidak selalu datang dalam bentuk yang besar. Ia bisa hadir dari sebuah sajadah yang mulai terbentang, suara pengajian yang terdengar pada malam hari, anak-anak yang bersekolah, rumah permanen yang menggantikan sudung, hingga keberanian generasi muda menapaki pendidikan tinggi.

Jejak perubahan itulah yang coba ditelusuri Bidang  Perempuan, Remaja dan Keluarga (PRK) MUI Provinsi Jambi bersama tim melalui rangkaian sosialisasi dan kajian lapangan ke komunitas SAD di sejumlah wilayah. Kegiatan dimulai dari Desa Pelepat, Kabupaten Muaro Bungo, yang menjadi salah satu titik penting untuk melihat kehidupan SAD yang telah memeluk Islam.

Tim yang turun langsung terdiri atas delapan orang, yakni Prof. Dr. Maisah, M.Pd.I; Prof. Dr. Illiyyanti, M.Ag; Dr. Hindun, M.Pd.I; Ratna Dewi, M.Si; Prof. Zulkarnain, S.Ag., M.Hum., Ph.D.; Dr. Idarianti, M.Pd.I; Rafikoh, M.Pd.I; dan Netti Zurneli, M.Pd.

Sementara itu, sejumlah anggota tim lainnya turut memberikan kontribusi dari belakang layar untuk mendukung kelancaran kegiatan, yakni Dr. Ramlah, M.Pd.I., M.Sy.; Dr. Mahludin, M.Pd.I; Elli Surayya, S.Ag., M.Pd.; Pidayan Hasnipa, S.Ag., M.Sy.; dan Imron Rosadi, M.H.I.

Perjalanan dari Jambi menuju Muaro Bungo menjadi awal dari rangkaian panjang tersebut. Setelah beristirahat, rombongan bergerak menuju Desa Pelepat. Masyarakat SAD menyambut kedatangan tim dengan terbuka. Seorang warga yang dipercaya komunitas turut mendampingi rombongan selama berada di kawasan tersebut.

Percakapan kemudian mengalir pada satu hal yang menjadi perhatian utama: bagaimana agama, pendidikan, adat dan kehidupan sosial berubah ketika masyarakat SAD mulai berinteraksi lebih intens dengan kehidupan masyarakat umum.

Ketika Islam Menjadi Bagian dari Kehidupan Sehari-hari

Di Pelepat, perubahan itu tampak dari aktivitas keagamaan yang telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Masyarakat SAD yang telah memeluk Islam tidak hanya mengenal agama sebagai identitas, tetapi mulai menjalankan praktik keagamaan.

Mereka telah melaksanakan salat dan menggelar pengajian rutin setiap malam Rabu. Aktivitas tersebut menjadi gambaran bagaimana kehidupan keagamaan tumbuh di tengah komunitas yang sebelumnya memiliki latar kehidupan dan tradisi berbeda.

Perubahan yang sama terlihat dari dunia pendidikan.

Anak-anak SAD di kawasan tersebut telah memperoleh akses pendidikan. Bahkan, perkembangan itu telah melahirkan capaian yang sebelumnya mungkin sulit dibayangkan. Ada warga SAD yang menjadi anggota kepolisian dan ada pula yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, termasuk bidang kebidanan dan Universitas Negeri Jambi.

Pendidikan, dalam konteks ini, tidak sekadar soal ruang kelas. Ia menjadi pintu yang memungkinkan generasi muda SAD memasuki ruang kehidupan yang lebih luas tanpa harus memutus hubungan dengan komunitasnya.

Perubahan juga terlihat dalam urusan perkawinan. Masyarakat SAD yang telah hidup berdampingan dengan masyarakat umum mulai mengikuti ketentuan pemerintah, termasuk mengenai batas usia perkawinan perempuan. Pernikahan juga telah dilakukan melalui Kantor Urusan Agama (KUA).

Namun, perubahan tersebut tidak serta-merta menghapus hubungan sosial dengan komunitas SAD lainnya. Di kawasan Pelepat, masyarakat SAD Muslim masih hidup berdampingan dengan SAD non-Muslim. Interaksi tersebut memperlihatkan adanya toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Dari sisi ekonomi, kondisi masyarakat yang ditemui tim juga menunjukkan perkembangan. Sejumlah keluarga telah memiliki rumah permanen yang sebelumnya mendapat bantuan pemerintah. Lingkungan tempat tinggal pun terlihat cukup bersih.

Menjelang sore, tim berpamitan. Perjalanan belum selesai.


Mentawak: Ketika Tradisi Lama Bertemu Perubahan

Hari berikutnya, langkah tim berlanjut ke Desa Mentawak, Kabupaten Merangin. Kali ini kegiatan dilakukan melalui kerja sama dengan Universitas Syekh Maulana Qori (UNIM) Bangko.

Temenggung SAD bersama masyarakat menyambut kedatangan rombongan. Jika Pelepat memperlihatkan perkembangan komunitas SAD Muslim yang relatif lebih dekat dengan sistem pendidikan dan kehidupan masyarakat umum, Mentawak memberikan gambaran yang berbeda.

Di sana, tradisi lama masih terasa kuat.

Mayoritas masyarakat SAD di Mentawak diketahui masih non-Muslim. Pola kehidupan adat juga masih mempertahankan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Namun, di tengah komunitas tersebut terdapat cerita tentang perjumpaan antara kehidupan SAD dan Islam. Seorang laki-laki Muslim menikah dengan perempuan SAD yang telah menjadi mualaf. Keluarga tersebut tetap menjalankan kehidupan sebagai Muslim, tetapi kesehariannya tetap berada di tengah komunitas SAD.

Kisah itu memperlihatkan bahwa perubahan sosial tidak selalu berarti meninggalkan komunitas asal. Ada orang-orang yang memilih menjalani kehidupan baru sambil tetap berada di lingkungan sosial tempat mereka tumbuh dan hidup.

Perubahan paling terlihat dari tempat tinggal.

Sebagian masyarakat masih menggunakan sudung, hunian tradisional yang menjadi bagian dari kehidupan SAD. Namun, di sisi lain, sudah terdapat sekitar 46 kepala keluarga yang menempati rumah permanen.

Dua bentuk hunian itu berdiri sebagai gambaran sederhana tentang perubahan yang sedang berlangsung: tradisi tetap bertahan, sementara modernisasi perlahan masuk ke dalam kehidupan masyarakat.

Dari sisi ekonomi, sebagian masyarakat berkebun. Sebagian lainnya masih berburu. Babi, kijang, biawak dan sejumlah hewan lain menjadi bagian dari aktivitas berburu yang masih dilakukan.

Saat tim berada di lokasi, seekor babi hasil buruan terlihat telah disiapkan untuk dijual.

Pendidikan yang Belum Menemukan Jalan

Di balik berbagai perubahan tersebut, ada satu persoalan yang terasa paling membutuhkan perhatian: pendidikan.

Jika di Pelepat anak-anak SAD telah memasuki sekolah dan bahkan ada yang mampu melanjutkan ke perguruan tinggi, kondisi berbeda ditemukan di Mentawak.

Anak-anak SAD di kawasan ini belum memperoleh akses pendidikan formal seperti yang dijalani komunitas SAD di Desa Pelepat. Pembelajaran masih mengandalkan relawan yang datang memberikan pendidikan kepada mereka.

Perbedaan itu memperlihatkan bahwa perubahan kehidupan SAD tidak berlangsung seragam. Ada komunitas yang telah bergerak lebih jauh dalam pendidikan, sementara komunitas lainnya masih berada pada tahap awal.

Karena itu, pendidikan menjadi salah satu catatan penting dari perjalanan Bidang PRK MUI Provinsi Jambi.

Pembinaan tidak cukup dilakukan sekali. Anak-anak SAD membutuhkan pendampingan yang terus-menerus agar memiliki kemampuan membaca, menulis, memahami pengetahuan dasar, sekaligus mendapatkan kesempatan untuk menentukan masa depan mereka sendiri.

Dari sisi kebersihan, tim juga melihat perubahan. Kondisi masyarakat SAD yang ditemui dinilai lebih bersih dibandingkan gambaran kehidupan mereka pada masa lalu. Perubahan kecil tersebut menjadi bagian dari proses panjang transformasi sosial yang sedang berlangsung.

Panorama Jangkat, Pesona Eksotik di Balik Pegunungan Merangin

Jangkat dan Catatan yang Dibawa Pulang

Rangkaian perjalanan kemudian berlanjut ke Kecamatan Jangkat, Kabupaten Merangin.

Jangkat menghadirkan wajah yang berbeda. Mayoritas masyarakatnya beragama Islam, sementara bentang alam dan sumber daya alamnya menjadi potensi tersendiri. Kawasan tersebut memiliki panorama yang menarik dan berpotensi menjadi tujuan wisata.

Namun, bagi tim PRK MUI Provinsi Jambi, perjalanan tersebut bukan sekadar melihat keindahan alam.

Ada catatan yang harus dibawa pulang.

Dari Pelepat, tim melihat bagaimana pendidikan dan kehidupan keagamaan dapat menjadi bagian dari proses perubahan masyarakat SAD. Dari Mentawak, tim menemukan bahwa masih terdapat komunitas yang membutuhkan perhatian lebih besar, terutama dalam bidang pendidikan dan pembinaan. Sementara Jangkat memperlihatkan potensi lain yang dapat dikaji dari perspektif sosial, keagamaan, budaya dan lingkungan.

Seluruh pengalaman tersebut kemudian diarahkan menjadi bahan riset dan publikasi.

Bidang PRK MUI Provinsi Jambi berencana menyusun tulisan dalam bentuk jurnal maupun buku. Masing-masing anggota tim juga akan mengembangkan karya sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.

Hasil kajian tersebut selanjutnya diarahkan untuk dipublikasikan pada jurnal, termasuk jurnal internasional dan jurnal internasional bereputasi. Hasil penelitian juga direncanakan untuk dipresentasikan dalam konferensi internasional yang dilaksanakan APMNU di Malang.

Perjalanan belum berhenti di Merangin.

Sosialisasi direncanakan berlanjut ke komunitas SAD di sejumlah kabupaten lain di Provinsi Jambi. Kajian juga diarahkan untuk melihat komunitas SAD di Malaysia melalui kerja sama dengan dosen Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM).

Pada akhirnya, perjalanan Bidang PRK MUI Provinsi Jambi ke komunitas SAD meninggalkan satu pesan penting: perubahan tidak memiliki satu wajah.

Di Pelepat, perubahan terlihat melalui salat, pengajian, sekolah dan perguruan tinggi. Di Mentawak, perubahan berjalan lebih perlahan, berdampingan dengan sudung, tradisi berburu dan adat yang masih kuat. Di antara keduanya, pendidikan menjadi garis yang mempertemukan kebutuhan masa kini dengan harapan generasi berikutnya.

Dan dari perjalanan itulah, sebuah kajian sedang dimulai bukan hanya tentang bagaimana masyarakat SAD berubah, tetapi juga tentang bagaimana perubahan tersebut berlangsung, siapa yang ikut mendampingi, dan bagaimana pendidikan dapat membuka jalan bagi masa depan mereka tanpa menghapus akar budaya yang telah diwariskan turun-temurun.

Posting Komentar

0 Komentar