Jambinews.id | Teknologi - Di tengah gempuran era digital dan maraknya permainan di layar kaca, sebuah pergerakan kreatif yang hangat justru tengah tumbuh dari meja-meja kumpul keluarga dan komunitas. Adalah Wahyu Hidayat, seorang Board Game Designer sekaligus sosok di balik hadirnya Board Game Nusantara, yang mendedikasikan idenya untuk merancang beragam permainan papan (board game).
Bagi Wahyu, board game bukan sekadar sarana hiburan pengisi waktu luang. Lebih dari itu, permainan papan adalah medium interaktif yang mampu menyatukan orang-orang dalam satu meja, mengasah pola pikir, hingga menyampaikan kisah-kisah penting—mulai dari warisan kebudayaan bangsa hingga petualangan imajinatif untuk anak usia dini.
Melalui lini bertajuk "Koleksi Board Game Pilihan untuk Temani Waktu Santaimu", Wahyu Hidayat membuktikan bahwa karya anak bangsa mampu menghadirkan pengalaman bermain yang kaya tema, edukatif, dan kompetitif.
Membawa Warisan Budaya ke Meja Permainan
Salah satu pencapaian yang menarik perhatian publik dari portofolio Wahyu adalah Memburu I Tsing. Berada di bawah kategori Historical & Cultural Game, permainan ini lahir atas dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Dana Indonesiana, dan LPDP.
Mengambil latar situs bersejarah Candi Muaro Jambi, permainan ini mengajak 1 hingga 3 pemain untuk berpetualang layaknya peneliti sejarah yang cermat. Pemain ditantang menggabungkan ketelitian, strategi, dan eksplorasi guna menemukan artefak-artefak berharga. Dalam kotaknya, terdapat komponen permainan yang begitu kaya, meliputi 50 Kartu Lokasi, 30 Kartu Artefak, 8 Kartu Candi, 50 Kartu Jurnal I Tsing, serta 50 Kartu Misteri yang membuat setiap putaran terasa dinamis dengan durasi bermain sekitar 30 hingga 45 menit untuk usia 13 tahun ke atas.
Tidak berhenti di narasi sejarah, kecintaan Wahyu terhadap kekayaan alam Indonesia juga tertuang dalam Berburu Jenggala. Diperuntukkan bagi 2 hingga 4 pemain, board game bertema Nature / Wildlife Game ini menantang para pemainnya untuk berlomba menjadi pemburu jejak satwa liar terbaik di belantara Nusantara. Berbekal 4 papan permainan, 75 kartu lokasi, 16 kartu hewan, 25 kartu peralatan, dan 64 token jejak, Berburu Jenggala menjadi sarana edukasi lingkungan yang seru dan menantang.
Ruang Tumbuh dan Belajar Anak Usia Dini
Wahyu Hidayat juga menaruh perhatian besar pada perkembangan motorik dan bahasa anak-anak pra-sekolah melalui dua judul permainan edukatif, yaitu Jurazia dan Galaxia.
Jurazia mengusung tema zaman purba yang ceria dan penuh warna. Dirancang untuk anak usia 3 tahun ke atas, permainan solo (1 pemain) dengan durasi singkat 15–20 menit ini mengajak anak-anak menyelamatkan dinosaurus menggemaskan. Melalui komponen interaktif seperti papan permainan, 11 token makanan, 10 token jejak, 11 token siluet, dan 11 token fosil, anak-anak diajak melatih kecocokan serta daya ingat secara menyenangkan.
Sementara itu, untuk anak-anak yang menggemari keajaiban alam semesta, Galaxia hadir membawa petualangan ke luar angkasa. Dalam durasi 15 menit, pemain kecil diajak meluncur dari satu planet ke planet lain demi menyelesaikan misi mengenal benda langit dan merangkai kata. Permainan ini dilengkapi dengan 30 kartu planet, 30 kartu benda, 33 token huruf, jam pasir, hingga miniatur roket yang makin menghidupkan imajinasi si kecil.
Menguji Taktik dan Strategi di Lini Kompetitif
Bagi pencinta tantangan yang memicu adrenalin dan ketegangan taktik, Wahyu menyuguhkan dua permainan lainnya: The Horde dan Bororon Garabon.
Mengusung tema post-apocalyptic survival, The Horde membawa 2 pemain ke dalam situasi mencekam bertahan hidup dari ancaman manusia yang bermutasi menjadi zombie. Bertahan dalam waktu 20–30 menit hingga helikopter penjemput tiba menjadi misi utama, yang dieksekusi melalui pertarungan kartu aksi dan 70 token zombie di atas papan permainan.

0 Komentar