Jambinews.id - Di tengah riuh rendah pencapaian instan dan ambisi jabatan, kisah Ahmad Mutamassiqin, S.Pd atau yang akrab disapa Thamas hadir sebagai pengingat bahwa pengabdian sejati tidak pernah lahir dari jalan pintas. Ia tumbuh dari kesederhanaan, ditempa oleh keterbatasan, dan dimatangkan oleh kesabaran.
Lahir di Peninjauan, Kabupaten Batanghari, pada 5 Oktober 1992, Thamas berasal dari keluarga petani karet. Dari orang tuanya, M. Jupri dan Siti Halimah, ia belajar arti kerja keras dan keteguhan hidup. Nilai-nilai itulah yang menjadi fondasi kuat ketika pada tahun 2008 ia memilih merantau ke Kota Jambi demi pendidikan.
Di Jambi, hidup tidak langsung ramah. Ia tinggal di masjid, mengajar mengaji, membuka les privat pelajaran umum secara keliling, serta mengisi berbagai kegiatan keagamaan seperti tilawah dan berzanji dalam acara pernikahan maupun cukuran. Ruang masjid menjadi sekolah pertama tentang keikhlasan, disiplin, dan tanggung jawab sosial.
Takdir mempertemukannya dengan orang-orang baik yang kemudian menjadi orang tua angkat: Bapak Muhammad Syafe’i, S.Ag dan Ibu Lantari. Selain mendapat tempat bernaung, Thamas juga dipercaya mengurus masjid di samping rumah mereka. Dari sinilah benih kepemimpinan berbasis keteladanan tumbuh—memimpin bukan dengan perintah, melainkan dengan contoh.
Perjuangan akademiknya berbuah saat ia menamatkan pendidikan S1 di IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi pada tahun 2015. Selepas itu, ia mengabdi sebagai guru honorer di SDN 197 Kota Jambi. Fase ini kembali menguji keteguhan, karena dunia pendidikan sering kali menuntut pengorbanan lebih besar daripada imbalan yang diterima.
Pengakuan formal negara baru hadir pada 23 Maret 2024, ketika Thamas dilantik sebagai ASN PPPK. Namun pencapaian itu bukan akhir. Ia kembali mengikuti serangkaian seleksi ketat mulai dari administrasi, tes CAT BKN, hingga wawancara oleh Wali Kota Jambi. Proses tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan pendidikan harus lahir dari kompetensi, integritas, dan kesiapan mental.
Puncaknya, pada 30 Desember 2025, Ahmad Mutamassiqin, S.Pd resmi dilantik sebagai Kepala SDN 115 Kota Jambi. Sebuah amanah besar yang tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh doa orang tua, istri tercinta Novi Rostiana, S.E, keluarga besar, serta sahabat-sahabat seperjuangan.
Opini ini bukan sekadar mengisahkan keberhasilan personal, melainkan menegaskan satu hal penting: pendidikan membutuhkan pemimpin yang memahami arti perjuangan dari bawah. Kepala sekolah yang lahir dari proses panjang akan lebih peka terhadap nasib guru, murid, dan lingkungan sekolahnya.
Kisah Ahmad Mutamassiqin, S.Pd adalah bukti bahwa pengabdian yang jujur akan menemukan jalannya sendiri. Dari masjid ke ruang kelas, dari keikhlasan menuju kepercayaan sebuah perjalanan yang layak menjadi cermin bagi generasi muda dan para pendidik di negeri ini.
