Mengawali Tahun dengan Cahaya Optimisme: Sebuah Refleksi Spiritual dari Ketua BAZNAS Kota Jambi

Jambinews.id - Kota Jambi – Memasuki gerbang tahun baru, masyarakat diajak untuk tidak sekadar melihat pergantian kalender sebagai rutinitas angka, melainkan sebagai momentum transformasi spiritual. Ketua BAZNAS Kota Jambi, Dr. Muhamad Padli, S.Pd.I., M.Pd.I, menekankan pentingnya membangun narasi optimisme sebagai fondasi utama dalam menjalani kehidupan ke depan.

Dalam sebuah refleksi mendalam, Dr. Muhamad Padli menguraikan empat pilar utama yang menjadi landasan mengapa seorang Muslim harus melangkah dengan penuh keyakinan:

1. Landasan Teologis: Manifestasi Rahmat Allah

Optimisme bukan sekadar motivasi hamba, melainkan perintah langsung dari Sang Pencipta. Mengutip QS. Az-Zumar ayat 53, Dr. Padli mengingatkan bahwa Allah SWT melarang hamba-Nya untuk berputus asa. "Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah..."

"Ayat ini adalah proklamasi harapan. Seburuk apa pun lembaran di tahun sebelumnya, pintu rahmat Allah tidak pernah tertutup. Optimisme adalah bentuk syukur atas sifat Allah yang Maha Pengampun," ujarnya.

2. Kekuatan Pikiran: Husnuzan kepada Takdir

Merujuk pada aspek normatif dari Hadits Qudsi riwayat Imam Bukhari dan Muslim, beliau menegaskan bahwa realitas hidup seringkali mengikuti persepsi hamba-Nya. "Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku."

Menurutnya, mengawali tahun dengan prasangka baik (Husnuzan) akan menarik energi keberkahan dan kemudahan. Sebaliknya, pesimisme hanya akan menjadi penghalang bagi datangnya pertolongan Allah.

3. Konsensus Ulama: Urgensi Muhasabah

Secara historis dan hukum Islam, para ulama telah mencapai kesepakatan (Ijma’) bahwa mengevaluasi diri atau muhasabah pada setiap pergantian waktu hukumnya adalah mustahab (dianjurkan). Mengutip pesan legendaris Umar bin Khattab RA, "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab," Dr. Padli menekankan bahwa optimisme harus dibarengi dengan strategi hidup yang matang hasil dari evaluasi masa lalu.

4. Analogi Logis: Cahaya Subuh Kehidupan

Menggunakan pendekatan Qiyas (analogi), beliau mengibaratkan pergantian tahun seperti waktu subuh. Sebagaimana cahaya fajar yang secara pasti mengusir kegelapan malam, tahun yang baru harus disambut sebagai cahaya harapan yang menghapus kegagalan masa lalu.

"Jika petani tetap menanam benih dengan keyakinan akan panen di tengah cuaca yang tak menentu, maka seorang Muslim harus lebih optimis dalam menanam amal kebaikan di tahun yang baru ini," tambahnya.

Penutup: Kesulitan Membawa Kemudahan

Menutup refleksinya, Ketua BAZNAS Kota Jambi ini mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bergerak dengan keyakinan, bukan sekadar menunggu keajaiban. Beliau mengutip kaidah Ushul Fiqh yang sangat relevan: "Al-masyaqqatu tajlibut taysir" (Kesulitan membawa kemudahan).

"Jangan biarkan kegagalan tahun lalu membelenggu langkah kita. Setiap ujian yang telah kita lalui adalah anak tangga menuju kedewasaan iman. Mari jadikan tahun ini sebagai ladang amal dan perbaikan muamalah yang lebih luas," pungkasnya.