Syawwal, Ujian Keimanan dan Jalan Kepedulian: Seruan dari Mimbar Nurussalamah

Jambinews.id - Kota Jambi - Jumat siang itu, 27 Maret 2026, Masjid Nurussalamah di Kelurahan Tanjung Sari, Jambi Timur, tak hanya dipenuhi jemaah, tetapi juga oleh suasana batin yang tenang dan penuh harap. Di tengah saf-saf yang rapat, ratusan orang datang bukan sekadar menunaikan kewajiban, melainkan mencari makna tentang apa yang tersisa setelah Ramadhan berlalu.

Di atas mimbar, Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Jambi berdiri dengan gaya tutur yang bersahaja namun mengikat perhatian. Tanpa retorika berlebihan, ia mengajak jemaah menoleh ke dalam diri: apakah ibadah selama Ramadhan benar-benar membekas, atau justru memudar seiring bergantinya bulan.

Syawwal, katanya, bukan ruang jeda. Ia adalah cermin. Di sanalah kualitas iman diuji apakah tetap tumbuh atau justru surut. “Jika Ramadhan telah melatih kita untuk taat, maka Syawwal adalah waktunya membuktikan,” ujarnya, perlahan namun menghunjam.

Khutbah itu kemudian bergerak dari ranah personal menuju sosial. Ia menyoroti satu hal yang kerap terlupakan setelah euforia ibadah Ramadhan mereda: kepedulian terhadap sesama. Infaq dan sedekah, menurutnya, bukan sekadar pelengkap, melainkan inti dari keberhasilan spiritual.

Dalam penjelasannya, ia menggambarkan harta bukan sebagai sesuatu yang dimiliki, tetapi yang dilepaskan di jalan kebaikan. Ada ketenangan tersendiri yang mengalir saat seseorang memberi dan di situlah, katanya, letak keberkahan yang sering luput disadari.

Pesan itu terasa dekat dengan realitas jemaah. Di tengah dinamika kehidupan kota, ajakan untuk menjadikan sedekah sebagai kebiasaan, bukan sekadar momentum, terdengar relevan dan mendesak. Ia juga menyinggung pentingnya mengelola potensi zakat dan infaq secara terarah, agar mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat secara kolektif.

Tak ada tepuk tangan dalam khutbah Jumat. Namun keheningan yang tercipta siang itu menjadi bahasa tersendiri. Beberapa jemaah menunduk lebih lama, sebagian tampak termenung seolah sedang berdialog dengan diri sendiri.

Ketika shalat usai dan jemaah perlahan meninggalkan masjid, pesan dari mimbar itu tak serta-merta hilang. Ia tertinggal, mengendap, menjadi pengingat bahwa perjalanan spiritual tidak berhenti di Ramadhan. Di bulan Syawwal dan seterusnya, iman menuntut bukti dan salah satu jalannya adalah melalui tangan yang ringan memberi.