FGD Hasil Penelitian MoRA Fund UIN STS Jambi Bahas Potensi Tumbuhan Obat untuk Skincare Eksim

Jambinews.id | Jambi - Upaya mengembangkan potensi tumbuhan obat lokal menjadi bahan aktif produk perawatan kulit terus dilakukan melalui penelitian berbasis keanekaragaman hayati dan kearifan lokal masyarakat. Tim peneliti Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi yang dipimpin H. Arfan, S.Th.I., M.Soc.Sc., Ph.D., menggelar Focus Group Discussion (FGD) hasil penelitian program MoRA Fund untuk membahas potensi fitosterol dari tumbuhan lokal sebagai kandidat bahan aktif dalam formulasi skincare bagi penderita eksim.

FGD tersebut menjadi forum untuk memaparkan hasil penelitian sekaligus menghimpun masukan dari para ahli, pemangku kepentingan, pengelola kawasan konservasi, dan perwakilan industri farmasi. Penelitian ini mengangkat tema bioprospeksi fitosterol dari tumbuhan lokal di taman nasional Provinsi Jambi berdasarkan kajian etnobotani dan eksplorasi ilmiah.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN STS Jambi, Dr. Fridiyanto, M.Pd. Sejumlah pemateri dan ahli yang memberikan masukan dalam forum ini antara lain Dr. Apt. Fitrianingsih, M.Farm., Mahya Ihsan, M.Si., dan Hasna Ul Maritsa, M.Si.

Keterlibatan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam memperkaya perspektif penelitian, terutama dalam menghubungkan pengetahuan tradisional tentang tumbuhan obat dengan kajian ilmiah serta peluang pengembangan produk perawatan kulit yang aman dan efektif.

Dukungan perspektif adat dan kearifan lokal juga hadir melalui Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Jambi yang diwakili Datuk Muchtar Agus Cholif, S.H., dengan gelar adat Adipati Cendikio Anggo Gantorajo, Tuah Latih Pusako Alam. Kehadiran unsur adat diharapkan dapat memperkuat pemahaman mengenai pengetahuan masyarakat dalam memanfaatkan tumbuhan di lingkungan sekitarnya.

Dari sektor konservasi, kegiatan ini turut melibatkan perwakilan Taman Nasional Bukit Duabelas, yakni Ibu Asri, serta perwakilan Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Java, S.Hut. Keterlibatan pengelola kawasan taman nasional menjadi relevan karena penelitian tersebut menelusuri potensi tumbuhan lokal yang berkaitan dengan keanekaragaman hayati di kawasan konservasi.

Sementara itu, dari sektor industri farmasi, hadir perwakilan PT New Asiapharm, yakni Apt. Ardi Wijanarko, S.Farm., dan Apt. Novia Riskayanti, S.Farm. Kehadiran mitra industri diharapkan dapat membuka ruang diskusi mengenai peluang pengembangan hasil penelitian menuju formulasi produk yang memenuhi persyaratan mutu, keamanan, dan efektivitas.

Penelitian yang dipimpin H. Arfan, S.Th.I., M.Soc.Sc., Ph.D., ini berupaya mengidentifikasi tumbuhan obat yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber bahan aktif perawatan kulit. Eksplorasi dilakukan dengan mengacu pada pengetahuan lokal dan potensi keanekaragaman hayati di kawasan taman nasional di Provinsi Jambi.

Salah satu perhatian utama dalam penelitian ini adalah semakin terbatasnya regenerasi masyarakat yang memiliki pengetahuan tradisional tentang tumbuhan obat dan teknik peracikannya. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya dokumentasi pengetahuan lokal agar tidak hilang seiring berjalannya waktu.

Melalui kajian etnobotani dan eksplorasi ilmiah, pengetahuan masyarakat diharapkan dapat menjadi pijakan bagi penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi senyawa potensial, termasuk fitosterol, yang dapat dikembangkan sebagai kandidat bahan aktif dalam formulasi skincare untuk penderita eksim.

Penelitian ini merupakan riset multiyears selama tiga tahun yang didanai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui program Indonesia Bangkit atau MoRA Fund. Hasilnya diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi produk perawatan kulit, tetapi juga mendukung pelestarian pengetahuan tradisional serta pemanfaatan keanekaragaman hayati secara bertanggung jawab.

Meski demikian, potensi tumbuhan obat sebagai bahan aktif skincare tetap memerlukan pengujian dan validasi ilmiah lebih lanjut untuk memastikan keamanan serta efektivitasnya sebelum dapat diterapkan dalam produk yang digunakan masyarakat.

Melalui FGD ini, tim peneliti UIN STS Jambi berupaya memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, ahli, lembaga adat, pengelola taman nasional, dan industri farmasi. Sinergi tersebut menjadi langkah strategis agar hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi akademik, tetapi berpeluang dikembangkan menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat dengan tetap memperhatikan aspek ilmiah dan kelestarian lingkungan.

Posting Komentar

0 Komentar