UIN STS Jambi Gelar Festival Rentak Melayu, 118 Peserta Tampilkan Tradisi Budaya di Era Digital

Jambinews.id | Nasional - Upaya menjaga tradisi dan budaya Melayu Jambi di tengah derasnya perkembangan teknologi digital membutuhkan keterlibatan generasi muda. Semangat inilah yang dihadirkan Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi melalui Festival Rentak Melayu yang diselenggarakan Fakultas Adab dan Humaniora, Rabu (4/11/2026), di Gedung GCR Wing C, Kampus II UIN STS Jambi.

Mengusung tema “Merajut Tradisi Melayu, Bergema di Era Digital”, festival ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal, menggali, mengekspresikan, sekaligus melestarikan kekayaan tradisi dan budaya Melayu Jambi. Sebanyak 118 peserta dari 10 SMA sederajat di Provinsi Jambi ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Hadir pula para wakil dekan, ketua dan sekretaris program studi, dosen, serta mahasiswa UIN STS Jambi.

Rektor UIN STS Jambi, Prof. Dr. H. Kasful Anwar, M.Pd., saat membuka kegiatan menyampaikan apresiasi kepada Fakultas Adab dan Humaniora atas inisiatif menyelenggarakan Festival Rentak Melayu. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki arti penting dalam menggali kembali tradisi Melayu Jambi sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda agar nilai-nilai adat dan kearifan lokal tidak tergerus oleh perubahan zaman.

Ia menilai pelestarian budaya harus dimulai sejak dini. Generasi muda, khususnya kalangan pelajar dan mahasiswa, perlu mengenal tradisi daerahnya agar memiliki pemahaman dan kebanggaan terhadap identitas budaya Melayu Jambi.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh FAH ini, karena ini adalah dalam rangka menggali tradisi-tradisi Melayu Jambi. Salah satu lomba adalah mendongeng, puisi, stand up, ada seloko adat, karena kita tahu bahwa adat Melayu Jambi ini harus kita lestarikan. Melestarikan ini harus sejak dini, bahkan saat ini para remaja kita harus tahu,” ungkapnya.

Lebih jauh, Rektor menyampaikan harapan agar Festival Rentak Melayu tidak hanya menjadi agenda kegiatan fakultas, tetapi berkembang menjadi kegiatan tahunan dengan jangkauan lebih luas, mulai dari tingkat Sumatera hingga nasional.

“Insyaallah ini kegiatan tahunan, nanti dilakukan secara se-Sumatra bahkan nasional selama beberapa tahun ke depan selama periode saya ini,” tambahnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, Dr. Dian Mursyidah, M.Ag., menegaskan bahwa pelestarian budaya Melayu bukan semata-mata tanggung jawab masyarakat adat, melainkan juga menjadi bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi. Menurutnya, kampus memiliki tanggung jawab akademis untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sekaligus tanggung jawab moral dalam merawat, merevitalisasi, dan mengembangkan adat serta kearifan lokal Melayu Jambi.

“FAH mengadakan kegiatan ini merupakan tanggung jawab akademis dan tanggung jawab moral. Tanggung jawab akademis, FAH tidak hanya mengembangkan keilmuan pada empat program studi ini saja, tetapi juga memiliki kewajiban moral untuk senantiasa merawat, merevitalisasi, dan mengembangkan adat budaya Melayu serta kearifan lokal Melayu Jambi,” jelasnya.

Ia menjelaskan, Festival Rentak Melayu dirancang dengan pola pelaksanaan yang menggabungkan kompetisi daring dan luring. Babak semifinal dilaksanakan secara daring agar jangkauan peserta lebih luas dan tidak dibatasi oleh faktor geografis. Sementara itu, babak final diselenggarakan secara langsung untuk menghadirkan interaksi, kehangatan silaturahmi, serta memperkuat kolaborasi antarpeserta dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pelestarian budaya.

“Untuk itu, kami melakukan kegiatan Festival Rentak Melayu Jambi, dengan skema untuk babak semifinal itu dilakukan secara daring sehingga kita bisa menembus batas geografis. Kemudian pada saat final ini dilakukan dengan luring, dengan harapan melalui kehangatan silaturahmi kita bisa menjalin kerja sama di berbagai unsur yang bisa dilakukan, dan juri juga bisa melihat sejauh mana implementasi atau keteguhan adik-adik semua dalam mengembangkan adat Melayu Jambi,” lanjutnya.

Ketua Panitia yang juga Wakil Dekan III Fakultas Adab dan Humaniora, Dr. Muhammad Fadhil, S.Ag., menyampaikan bahwa festival ini menghadirkan delapan cabang perlombaan yang dirancang untuk memberikan ruang ekspresi dan kreativitas bagi generasi muda dalam mengenal budaya Melayu.

Delapan cabang tersebut meliputi lomba tembang Melayu, baca puisi, pantun Melayu, mendongeng, stand up comedy, seloko adat, poster, dan esai. Seluruh cabang perlombaan tersebut diikuti 118 peserta yang berasal dari 10 SMA sederajat di Provinsi Jambi.

Keberagaman cabang perlombaan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan. Tradisi lisan seperti pantun, mendongeng, dan seloko adat dapat terus diperkenalkan, sementara puisi, poster, esai, dan pertunjukan kreatif menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengemas kembali nilai-nilai budaya dengan pendekatan yang lebih dekat dengan perkembangan zaman.

Festival Rentak Melayu sekaligus menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan kreativitas generasi muda. Melalui kegiatan ini, UIN STS Jambi berupaya memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjaga warisan budaya daerah, sekaligus mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya memahami kemajuan teknologi, tetapi juga mengenal akar identitas dan kearifan lokalnya.

Pada akhirnya, tradisi Melayu tidak cukup hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah. Nilai-nilai adat, bahasa, sastra, kesenian, dan kearifan lokal perlu terus dihidupkan melalui ruang pendidikan, kreativitas, serta keterlibatan generasi muda agar tetap relevan dan bergema di tengah perubahan zaman.

Posting Komentar

0 Komentar